Image page cover

Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon, 28 September 2026: Merawat Tradisi, Menghidupkan Kembali Sebuah Lakon

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali mempersembahkan Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin Pon, 28 September 2026 (15 Bakdamulud Be 1960) di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pertunjukan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dalam penanggalan Jawa.

Gelaran kali ini kembali menyapa setelah Uyon-Uyon Hadiluhung tidak tampil pada bulan Mulud. Masyarakat umum dapat menyaksikan pertunjukan secara langsung melalui reservasi daring dengan kuota terbatas. Peserta luring wajib mematuhi pranatan untuk menjaga tata krama dan keluhuran suasana pertunjukan. Bagi masyarakat yang belum bisa hadir secara luring, Keraton Yogyakarta juga menyiarkan pergelaran ini melalui siaran langsung di Kanal YouTube Kraton Jogja mulai pukul 19.00 WIB. 

03

Perjalanan Bunyi dalam Uyon-Uyon Hadiluhung

Uyon-Uyon Hadiluhung menyajikan serangkaian karawitan dengan struktur tradisi musikal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Perjalanan pertunjukan dimulai dari gendhing pambuka, berlanjut ke gendhing soran dan beberapa sajian gendhing lirihan, kemudian memasuki gendhing lampah beksan, sebelum akhirnya ditutup dengan gendhing panutup.

Setiap bagian memiliki karakter dan fungsi musikal yang berbeda. Gendhing pambuka mengantarkan suasana pertunjukan. Gendhing soran menghadirkan karakter bunyi yang lebih dinamis melalui kekuatan instrumen balungan dan ricikan garap. Sementara itu, gendhing lirihan membawa suasana yang lebih halus dengan penekanan pada melodi, vokal, dan pengolahan rasa musikal.

Pada bagian gendhing lampah beksan, sajian karawitan menjadi pengiring tari Beksan Pragolamurti. Rangkaian pertunjukan kemudian diakhiri dengan gendhing panutup.

Struktur Sajian Gending

  1. Gendhing Pambuka
    Ladrang Prabu Mataram
    Laras Slendro · Pathet Sanga
  2. Gendhing Soran
    Gendhing Sawunggaling (Kendhangan Sarayuda, jangkep sakdhawahipun)
    Laras Pelog · Pathet Lima
  3. Gendhing Lirihan I
    Gendhing Siswa Suwara (Kendhangan Candra, minggah Ladrang Babad Kenceng kagarap bedhayan)
    Laras Slendro · Pathet Nem
  4. Gendhing Lampah Beksan
    Beksan Pragolamurti
    Laras Pelog · Pathet Nem
  5. Gendhing Lirihan II
    Gendhing Penglawet Ganda (Kendhangan Lahela, dhawah Ladrang Brangta Kingkin)
    Laras Slendro · Pathet Sanga
  6. Gendhing Lirihan III
    Gendhing Padhang Bulan (Kendhangan Sarayuda, dhawah Ladrang Padhang Bulan, minggah Bubaran Mapro)
    Laras Pelog · Pathet Barang
  7. Gendhing Panutup
    Ladrang Tedhak Saking
    Laras Pelog · Pathet Barang

02

Kolaborasi dalam Karawitan 

Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini juga memperlihatkan ruang perjumpaan yang lebih luas dalam kehidupan karawitan di Yogyakarta.

Dua sajian pada bagian awal pertunjukan, yaitu Gendhing Pambuka Ladrang Prabu Mataram dan Gendhing Soran Gendhing Sawunggaling, dipentaskan oleh kelompok Karawitan UKM Swagayugama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Keterlibatan kelompok karawitan dari luar lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut merupakan bagian dari pola kolaborasi yang secara rutin difasilitasi oleh Kawedanan Kridamardawa.

“Setiap tahun, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memberikan kesempatan kepada sejumlah kelompok karawitan yang berkembang di Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan Uyon-Uyon Hadiluhung dan juga pentas rutin paket wisata di Bangsal Srimanganti,” ujar Mas Jajar Birowo, Pimpinan Produksi Uyon-Uyon Hadiluhung September 2026.

Ketua UKM Swagayugama UGM 2026, Arnetta Rosana Putri, juga menyatakan semangat dan antusiasme tersendiri dalam keterlibatan kali ini. UKM Swagayugama UGM memandang kesempatan ini sebagai kehormatan sekaligus ruang untuk mempersembahkan karya terbaik melalui sajian karawitan. “Tentunya dari kami, UKM Swagayugama UGM merasa sangat senang dan terhormat karena bisa menjadi salah satu grup karawitan pengisi Uyon-Uyon Hadiluhung memperingati Wiyosan Dalem periode tahun 2026. Melalui kesempatan berharga di mana kebetulan juga ini kali pertama kami untuk ikut menjadi salah satu bagian Uyon-Uyon Hadiluhung, kami berusaha untuk mempersiapkan sebaik mungkin. Persiapan ini diwujudkan dalam beberapa kali proses latihan, hingga harapannya pada 28 September 2026, kami dapat menyajikan Gendhing Pambuka dan Gendhing Soran secara maksimal dan totalitas,” ungkap Arnetta Rosana Putri.

Praktik kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara memperluas ekosistem karawitan Yogyakarta. Keraton Yogyakarta tidak hanya menjadi ruang pelestarian repertoar dan estetika karawitan tradisional, tetapi juga ruang perjumpaan bagi berbagai kelompok dengan latar belakang dan pengalaman karawitan yang beragam.

04

Beksan Pragolamurti: Menghidupkan Kembali Sebuah Lakon

Bagian gendhing lampah beksan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini menghadirkan Beksan Pragolamurti.

Beksan Pragolamurti merupakan Yasan Dalem Enggal, yaitu karya tari baru yang diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono Ka 10. Meski merupakan karya baru, penciptaannya berangkat dari sumber tradisi yang telah lama dikenal.

Inspirasi dan rujukan karya ini adalah manuskrip berkode K 96, Serat Kandha Ringgit Tiyang: Lampahan Pragolamurti. Naskah-naskah senada yang memuat lakon Pragolamurti juga ditemukan, bertarikh pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V hingga Sultan Hamengku Buwono VIII, yang disimpan di Perpustakaan Widya Budaya.

01

Pertemuan Pragolamurti dan Abimanyu

Secara dramatik, Beksan Pragolamurti mengangkat pertarungan antara Begawan Pragolamurti dan Raden Abimanyu. Keduanya memiliki tujuan yang sama: mempersunting Dewi Siti Sendari, putri Prabu Kresna dari Negara Dwarawati.

Kecantikan Dewi Siti Sendari menarik perhatian banyak pelamar. Kerajaan Dwarawati kemudian menetapkan sebuah sayembara dengan bebana atau mahar berupa buron wana (satwa hutan) sebagai syarat bagi siapa pun yang hendak melamarnya.

Persyaratan tersebut mempertemukan dua kepentingan. Begawan Pragolamurti dan Raden Abimanyu sama-sama berupaya memperoleh buron wana sebagai syarat untuk mempersunting sang putri.

Berdasarkan kandha atau narasi yang menjadi landasan penceritaan beksan, Begawan Pragolamurti melakukan perjalanan menuju Dwarawati untuk melamar Dewi Siti Sendari. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Raden Abimanyu dan mengetahui bahwa Dewi Siti Sendari telah menjadi istri Abimanyu.

Pertemuan itu menjadi titik balik cerita.

Persaingan yang semula berangkat dari keinginan memperoleh pasangan kemudian berkembang menjadi pertarungan terbuka antara kedua tokoh. Pada akhir kisah, Begawan Pragolamurti dikalahkan oleh Raden Abimanyu, sedangkan Dewi Siti Sendari tetap menjadi pendamping Abimanyu.

Dari Lakon Lama ke Panggung Masa Kini

Lakon Pragolamurti bukan cerita yang sepenuhnya asing dalam khazanah pewayangan Jawa. Lakon ini termasuk kategori carangan Mahabharata, yaitu cerita gubahan yang dikembangkan di luar alur utama epos Mahabharata.

Dengan menempatkan Begawan Pragolamurti sebagai tokoh sentral, lakon ini menghadirkan sudut pandang dan konflik yang berbeda. Narasi tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi bagi penciptaan Beksan Pragolamurti yang dipentaskan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini.

Jejak lakon Pragolamurti di lingkungan Keraton Yogyakarta dapat ditelusuri setidaknya sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823–1855). Keberadaan naskah kandha yang memuat cerita tersebut menunjukkan bahwa Pragolamurti telah menjadi bagian dari tradisi sastra dan pertunjukan keraton sejak abad ke-19.

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, lakon ini tercatat pernah dipentaskan dalam bentuk Wayang Wong selama dua hari berturut-turut, pada 19–20 Agustus 1939, sebagai dramatari memperingati kelahiran Putri Irene dari Belanda.

Tradisi tersebut kemudian berlanjut hingga masa kini. Salah satunya melalui pementasan Wayang Wong Lakon Pragolamurti yang diselenggarakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Jumat, 31 Desember 2021, sehubungan mengisi agenda pergantian tahun baru 2022.

Kini, lakon tersebut hadir kembali melalui medium yang berbeda, hadir di tengah masyarakat umum, hingga disiarkan langsung melalui tayangan YouTube. Beksan Pragolamurti menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali memori kolektif terhadap lakon tersebut melalui bentuk artistik yang lain.

Ketika Gerak Menjadi Bahasa Konflik

Dari sisi koreografi, Beksan Pragolamurti berbentuk beksan sekawanan alus, yaitu tarian yang dibawakan oleh empat penari putra dengan karakter gerak halus khas tari klasik gaya Yogyakarta.

Salah satu ragam gerak yang digunakan adalah impur, yang menonjolkan kualitas gerak lembut, terkendali, dan penuh penghayatan.

Namun, karakter alus tersebut tidak menghilangkan suasana konflik dan peperangan. Keduanya justru dibangun melalui pengolahan gerak yang dinamis serta komposisi ruang yang variatif.

Waos dan Wedhung

Beksan Pragolamurti menampilkan penggunaan properti senjata berupa waos (tombak) dan wedhung (belati) sebagai bagian penting dalam penyajiannya.

Keduanya digunakan untuk merepresentasikan adegan perlawanan antara Begawan Pragolamurti dan Raden Abimanyu.

Di antara kedua properti tersebut, wedhung menjadi salah satu aspek yang paling menonjol. Senjata ini jarang, bahkan hampir tidak pernah, digunakan sebagai properti utama dalam tari klasik gaya Yogyakarta.

Kehadirannya tidak hanya memperkuat unsur dramatik pertunjukan, tetapi juga menjadi penanda inovasi artistik dalam penciptaan tarian ini.

Gerak, Ruang, dan Irama

Dinamika pertunjukan juga dibangun melalui pengolahan pola lantai yang aktif. Pergerakan para penari menjadi representasi visual dari pertarungan kedua tokoh utama.

Suasana tersebut semakin diperkuat melalui ragam gerak pacak gulu atau gerakan leher yang dipadukan dengan racikan kendhang yang lincah dan ritmis.

Perpaduan gerak dan racikan kendhang terutama muncul pada bagian enjeran (saat persiapan perang). Pada bagian ini, keduanya membangun suasana yang tegang sekaligus energik dan memperkuat karakter dramatik pertunjukan.

Tradisi yang Terus Bergerak

Beksan Pragolamurti memperlihatkan satu hal penting tentang keberlanjutan tradisi seni di lingkungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Beksan ini merupakan Yasan Dalem Enggal (karya baru), tetapi dibangun berdasarkan lakon yang telah lama hidup dalam tradisi pewayangan Jawa.

Dari sini terlihat bahwa inovasi dalam tari klasik Yogyakarta tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pembaruan juga dapat dilakukan dengan mengolah kembali sumber-sumber tradisi yang telah ada, kemudian menghadirkannya dalam bentuk artistik yang relevan dengan konteks masa kini.

Tim Pendukung Pertunjukan

Untuk menghadirkan pementasan yang tertib dan selaras, pertunjukan ini melibatkan sejumlah Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang teknis, serta peran panggung, berikut di antaranya:

  1. Paraga Patuh (Penari Utama)
    1. R Nurwaskita Cahyo Darmawan
    2. Bagas Haryo Wicaksono
    3. Farid Nur Wahyudi
    4. Dirgantantra Megandara
  1. Paraga Bela (Penari Candangan)
    1. Tirta Wahyu Pratama
    2. Moreno Arya Kamandanu
    3. Oke Bimantara Sakti
    4. Dian Afrizal
  1. Pamucal Beksa: RRiyo Rogomurti
  2. Papan Cerita: RB Pronomatoyo
  3. Penata Gendhing Beksan: MRiyo Susilomadyo
  4. Penata Gendhing Uyon-Uyon: MB Kumoromoyo
  5. Pembaca Kandha: Ahmad Hafizh Rasyad
  6. Keprak: RRiyo Rogomurti
  7. Penata Busana: RW Ronosumekto
  8. Pimpinan Produksi: MJ Birowo

 

Daftar Pustaka dan Wawancara

Jennifer Lindsay. 1984. “The Krida Mardawa Manuscript Collection”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.

Jennifer Lindsay, dkk. 1994. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 2, Kraton Yogyakarta. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

RRiyo Rogomurti. 2026. Kandha Beksan Pragolamurti. Yogyakarta: Kawedanan Kridamardawa.

Wawancara dengan RRiyo Rogomurti pada 16 September 2026.

Wawancara dengan MJ Birowo pada 16 September 2026.