Maklumat Keistimewaan: Sarasehan Budaya Peringati Amanat 5 September 1945, Rawat Persatuan Lintas Generasi
- Minggu, 13 September 2026
Suasana berbeda menyelimuti Ndalem Poenakawan Cafe, Resto & Gallery Yogyakarta pada Sabtu (05/09) siang lalu. Kafe yang biasanya ramai oleh wisatawan, siang itu dipadati sekitar 200 orang dari beragam kalangan, mulai dari Sekda dan perwakilan dari Pemda DIY, Bupati dan Wali Kota se-DIY dan perwakilannya, kepala OPD se-DIY, para sejarawan, akademisi, pemerhati budaya, organisasi pemuda, hingga perwakilan dari berbagai tepas dan kawedanan di Keraton Yogyakarta, serta masyarakat umum. Hadir pula Putri Dalem GKR Mangkubumi dan GKR Condrokirono, serta Wayah Dalem RM Gustilantika Marrel Suryokusuma turut hadir di barisan depan. Sementara RM Drasthya Wironegoro tampak membaur bersama rekan-rekannya di Karang Taruna DIY. Seluruhnya antusias mengikuti sarasehan budaya bertajuk “Maklumat Keistimewaan Yogyakarta: Merawat Keistimewaan, Menjaga Kehormatan Bangsa” yang digelar dalam rangka Peringatan 81 Tahun Amanat 5 September 1945.

"Mari kita hidupkan semangatnya dalam tindakan kita sehari-hari: guyub, rukun, saling menghormati, dan bersedia berjalan bersama meskipun berbeda,” tutur GKR Mangkubumi dalam sambutan pembuka sarasehan. GKR Mangkubumi mengajak seluruh lapisan masyarakat memaknai Peringatan Amanat 5 September 1945 tak hanya sebagai simbolis dan seremoni belaka.
Diawali dengan suguhan musik Keroncong Apik dari Malioboro Classical dan pembacaan puisi oleh Bapak Tazbir Abdullah yang menyiratkan semangat persatuan, sarasehan kemudian diawali dengan pemantik berupa penayangan video Amanat 5 September 1945 yang diproduksi oleh Paniradya Kaistimewan. Acara yang diprakarsai GKR Mangkubumi ini juga dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza dan doa yang dipimpin oleh Bapak Ir. Syahbenol Hasibuan, M.B.A. Usai sambutan pembuka dari GKR Mangkubumi, sarasehan kemudian dimulai dengan moderator Bapak Rommy Heryanto.

Sesi pertama sarasehan menghadirkan paparan materi dari Bapak Dr. Harto Juwono, M. Hum yang menyampaikan hasil kajiannya terkait Amanat 5 September 1945 dari perspektif sejarah. Bahwa sebenarnya Amanat yang disampaikan pada 5 September 1945 tersebut barulah amanat yang pertama, dan memiliki seri kelanjutan hingga total 18 amanat lainnya yang setara instruksi. Menurut Dr. Harto Juwono, amanat nomor 18 yang diterbitkan pada 18 Mei 1946 bahkan berisikan tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kemudian tradisi, kepemilikan dan kebudayaan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ini diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Dan sejak itu, Yogyakarta kemudian menjadi Daerah Istimewa. Yogyakarta bukan swapraja, dan bukan juga eks swapraja,” ungkap Dr. Harto Juwono.

Ragam penemuan menarik yang dipaparkan Dr. Harto Juwono kemudian direspons oleh Bapak Dr. Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A., selaku penanggap. Suasana diskusi yang hangat pun berlanjut kepada paparan narasumber kedua yakni Bapak Prof. Dr. Suhartono, salah satu purna bakti Guru Besar Ilmu Sejarah yang juga banyak berkisah terkait Amanat 5 September 1945. Sesi tersebut kemudian ditutup dengan penanggap Bapak Dr. Susanto, M. Hum yang menyampaikan beragam peristiwa sejarah seputar Amanat 5 September 1945, baik peristiwa pendahulu maupun pasca Amanat.
Selain dihadiri peserta sarasehan secara luring di Ndalem Poenakawan, acara ini juga disiarkan langsung secara daring melalui kanal YouTube Kraton Jogja. Banyak peserta daring yang cukup antusias mengikuti sarasehan, terpantau penonton dari Jakarta, Bogor, hingga Jember. Tak hanya bergabung menyaksikan dan menyimak, penonton dari Jakarta dan Jember bahkan berpartisipasi aktif memberikan pertanyaan di sesi tanya jawab. Beberapa peserta sarasehan yang hadir langsung juga sempat menyampaikan pertanyaan dan tanggapan, seperti Guru Besar UGM Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A (K), dan beberapa penanya lainnya. Diskusi berlangsung menarik dan penuh wawasan baru yang tentunya dapat memantik semangat persatuan lintas generasi, meneladani warisan nilai Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
GKR Mangkubumi menekankan bahwa merawat nilai persatuan yang juga menjadi bagian dari keistimewaan Yogyakarta ini tidak cukup dilakukan oleh satu generasi. Generasi muda perlu mendapat ruang untuk mengenal sejarah lebih dekat, termasuk dengan membuka arsip, menggali data dan kajian yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.

“Forum-forum yang seperti ini memang sengaja kami buat karena tujuannya adalah mengedukasi. Tidak hanya sebuah peringatan, tidak hanya sebuah pertemuan, tetapi bagian dari edukasi. Karena kita kan membuka arsip dan banyak sekali data-data yang belum diketahui oleh banyak orang,” tambah putri sulung Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 ini.
Berkait dengan peran pemuda yang kini didominasi generasi Z, GKR Mangkubumi merasa perlu mendorong generasi muda ini untuk tidak hanya menerima sejarah sebagai cerita masa lalu, tetapi ikut belajar dan mendalaminya. Dengan demikian, mereka dapat menjadi bagian dari proses estafet pengetahuan sejarah dan menularkannya kepada generasi muda lainnya.

“Untuk lebih menjelaskan kepada Gen Z, tentunya kita butuh orang-orang Gen Z ini yang mau belajar dan mendalami soal arsip dan sejarah. Ayo, tidak apa-apa kita belajar bersama di situ. Kemudian nanti merekalah yang akan menyebarluaskan kepada sesama generasi muda agar memahami sejarah tentang DIY,” pungkas GKR Mangkubumi.