Image page cover

Kondur Gangsa, Babak Akhir Hajad Dalem Sekaten Mulud Be 1960/2026

Sri Sultan Hadiri Pembacaan Riwayat Nabi

Dalam puncak perayaan Sekaten pada Selasa Wage (25/08) malam atau 11 Mulud Be 1960, Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 Miyos (hadir dalam ruang upacara) untuk mendengarkan secara saksama pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW. Sinuwun duduk tepat di tengah Saka Guru serambi Masjid Gedhe, sementara itu Putra Dalem Putri GKR Mangkubumi, GKR Bendara, dan Mantu Dalem KPH Wironegoro, KPH Purbodiningrat, serta Wayah Dalem RAj Nisaka Irdina Yudanegara juga hadir mengiringi. Sementara Wayah Dalem RM Drasthya Wironegoro tengah bertugas sebagai Kapten Prajurit Wirabraja. Turut hadir kerabat Pura Pakualaman BPH Kusumo Bimantoro dan KRMT Kusumo Aminoto, serta segenap Abdi Dalem perwakilan kawedanan di Keraton Yogyakarta, duduk rapi di sekeliling untuk ikut menyimak pembacaan riwayat Nabi. Bertindak sebagai pembaca Risalah Nabi Muhammad SAW yaitu Raden Riya Mangkuhadiningrat, Pengajeng Urusan Pengulon.

Ds C00089 2

Di tengah-tengah pembacaan risalah, Sinuwun beserta Putri Dalem, Mantu Dalem, dan segenap pengiring mengenakan Sumping Melati di telinga. Sematan bunga ini melambangkan keterbukaan telinga seorang pemimpin dalam menyerap aspirasi serta menjalankan amanat rakyatnya. Setelah menyimak pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW, Sinuwun Jengkar kembali ke keraton, diikuti segenap pengiring. 

Sementara itu, masyarakat masih memadati pelataran Kagungan Dalem Masjid Gedhe untuk menyaksikan prosesi Kondur Gangsa (kembalinya Gamelan Sekati ke dalam keraton). Sebelum memasuki Masjid Gedhe, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 sempat Miyos ke kedua Pagongan (tempat penabuhan Gamelan Sekati) untuk menyebarkan Udhik-udhik (campuran uang logam, kelopak bunga, beras dan biji-bijian). 

Ds C00297 2

Carik Kawedanan Kaprajuritan MJ Yuda Kawindra, menerangkan sesaat setelah Sri Sultan memasuki pelataran Masjid Gedhe, akan langsung menyebar Udhik-udhik.

“Setelah Miyos di pelataran Masjid Gedhe, Sinuwun akan beranjak menuju Pagongan Kidul (Selatan) didherekake para Putri Dalem dan Mantu Dalem serta kerabat Pakualaman untuk membagi atau menyebar Udhik-udhik, lalu berlanjut ke Pagongan Lor. Udhik-udhik dibagikan kepada para Wiyaga dan masyarakat yang hadir. Sinuwun sekali lagi menyebar Udhik-udhik di dalam Masjid Gedhe,” terang MJ Yuda Kawindra.

Ds C00490 2

Prosesi penyebaran Udhik-udhik diawali di Pagongan Kidul, lokasi disemayamkannya Gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu. Udhik-udhik dibagikan ke area dalam untuk para Wiyaga (penabuh gamelan) serta ke area luar yang telah dipadati masyarakat. Setelah itu, Sinuwun melanjutkan prosesi serupa di Pagongan Lor tempat Gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga berada, sebelum akhirnya mengakhiri rangkaian penyebaran Udhik-udhik di dalam Masjid Gedhe untuk para Abdi Dalem urusan keagamaan. Sebaran Udhik-udhik ini menjadi momentum bagi masyarakat Yogyakarta untuk bertemu dengan rajanya secara langsung.

Ds C00535 2

Prosesi Kondur Gangsa

Di sisi lain, segenap prajurit Keraton Yogyakarta bersiap di pelataran Kamandungan Kidul. Barisan tersebut diurutkan mulai dari Bupati Kapten, Bregada Wirabraja, Bregada Patangpuluh, Bregada Nyutra, Bregada Ketanggung, Bregada Mantrijero, Kanca Bekaken, Kanca Gladhag Widya, hingga Kanca Gladhag. Usai barisan disiapkan dan prosesi Nyadhong Dwaja Prajurit (pemasangan bendera/panji) selesai, seluruh kesatuan langsung bergerak menuju Masjid Gedhe melalui rute Magangan – Kedhaton – Sitihinggil Lor – Masjid Gedhe.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kedua Gamelan Sekati akan langsung dibawa kondur (kembali) ke Keraton Yogyakarta usai Ingkang Sinuwun jengkar dari Masjid Gedhe. Dua perangkat Gamelan Sekati pusaka warisan Kerajaan Mataram ini segera diusung kembali ke keraton oleh Kanca Gladhag melewati Pagelaran – Sitihinggil Lor – Kamandungan Lor (Keben), hingga diletakkan kembali di tempat semula yakni di Kagungan Dalem Bangsal Trajumas, kompleks Srimanganti. Rangkaian prosesi inilah yang disebut dengan Kondur Gangsa 

Ds C00619 2

“Usai mendengarkan Risalah Nabi, Sinuwun akan Jengkar (kembali) ke Kedhaton, Gamelan Sekati akan segera diusung oleh para Kanca Gladhag dan prajurit juga menghantarkan Gamelan Sekati (kembali) ke Bangsal Trajumas,” tambah MJ Yuda Kawindra.

Prosesi diawali di Masjid Gedhe dengan persiapan kepulangan prajurit dan pengangkatan gamelan pusaka. Barisan prajurit bersiap mengawal keberangkatan dengan urutan: Bupati Kapten, Mantrijero, Patangpuluh, Ketanggung, Wirabraja, serta Nyutra Ngurung-Urung Gangsa. Nyutra Abrit (merah) Ngurung-Urung atau mengawal Kiai Gunturmadu dan Nyutra Cemeng (hitam) mengawal Kiai Nagawilaga). Setelah seluruh barisan siap, Kanca Gladhag mulai mengusung masing-masing Gamelan Sekati kembali ke keraton.

Ds C09367 2

Rombongan kemudian berjalan menuju Srimanganti dengan melintasi kawasan Pagelaran dan Sitihinggil. Begitu barisan prajurit bergerak keluar dari Masjid Gedhe, barisan pembawa obor mulai menyalakan obor untuk menerangi jalannya Kondur Gangsa. Sepanjang perjalanan menuju Srimanganti, alunan suara gamelan terus ditabuh mengiringi langkah rombongan. Suasana khidmat menyelimuti Bangsal Pagelaran saat pendar cahaya obor menyatu dengan pendaran lilin masyarakat yang menyaksikan prosesi Kondur Gangsa, tepat ketika Gamelan Sekati mulai diboyong menaiki Sitihinggil.

Sesampainya di pelataran Srimanganti, para prajurit berbaris rapi menunggu prosesi penataan gamelan selesai sebelum akhirnya kembali ke Magangan. Di Bangsal Trajumas, Kanca Gladhag langsung menurunkan gamelan, sementara Kanca Inggil bertugas mengarahkan dan menata gamelan pusaka di tempat semula. 

Ds C09960 2

Dengan demikian upacara Kondur Gangsa menjadi babak akhir dan menandai tuntasnya rangkaian Hajad Dalem Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung sejak 6 – 11 Mulud atau 20 – 25 Agustus 2026. Seluruh rangkaian acara berlangsung dalam suasana yang penuh khidmat.