Miyos Gangsa: Babak Awal Hajad Dalem Sekaten Mulud Be 1960/2026 Berjalan Khidmat
- Jumat, 21 Agustus 2026
Pelaksanaan tradisi Miyos Gangsa pada Rabu Pon malam (19/8) atau 5 Mulud Be 1960 menjadi penanda dimulainya rangkaian Hajad Dalem Sekaten Mulud yang berlangsung dengan penuh khidmat. Sekaten merupakan rangkaian tradisi Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Mulud dalam penanggalan Jawa untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dua perangkat gamelan pusaka milik Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, diberangkatkan dari Bangsal Pancaniti di Kamandungan Lor menuju Masjid Gedhe.
Prosesi diawali sejak pagi hari di Pawon Ndalem kilen, di mana para Abdi Dalem Keparak mulai mempersiapkan nasi gurih sebagai rangkaian Sugengan. Nasi Gurih tersebut kemudian ditempatkan di tempelang untuk dibagikan kepada seluruh Abdi Dalem yang sedang bertugas siang itu. Agenda kemudian dilanjutkan mulai pukul 19.00 WIB ketika sepasang Gamelan Sekati mulai ditabuh di Bangsal Pancaniti.

Tepat pukul 20.00 WIB, Utusan Dalem yang dihadiri oleh Putri Dalem GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara menyebar Udhik-udhik. Ratusan Abdi Dalem dan warga berkumpul memperebutkan uang logam yang bercampur dengan biji-bijian dan bunga tersebut. Pembagian ini sarat akan makna filosofis sebagai simbol kedermawanan Sultan serta harapan akan keberkahan bagi masyarakat.
Langkah kaki dan Gendhing Prajurit mulai menggema ketika Bregada Langenkusuma dan diikuti Bregada Prawiratama memulai perjalanan ke Masjid Gedhe. Rutenya melalui kompleks Sitihinggil yang kemudian diikuti keberangkatan Gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu. Dilanjutkan keberangkatan Bregada Jagakarya, Gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga, para Kapten, dan Abdi Dalem Suranata.

Carik Kawedanan Kaprajuritan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, MJ Yuda Kawindra, mengatakan bahwa hal yang berbeda dalam Miyos Gangsa tahun ini adalah keberadaan Prajurit Langenkusuma. Namun untuk urutan lainnya masih memiliki kesamaan.
“Bregada atau prajurit yang terlibat Miyos Gangsa tahun ini, di antaranya Prajurit Langenkusuma, Prajurit Prawiratama, dan Prajurit Jagakarya. Dalam prosesi Miyos Gangsa, mereka bertugas mengawal keberangkatan Gamelan Sekati dengan aman hingga ke Masjid Gede,” jelas MJ Yuda Kawindra.

Setibanya di pelataran Masjid Gedhe, Gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan sisi selatan, sedangkan Gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga ditempatkan di Pagongan sisi utara. Kedua perangkat gamelan ini akan ditabuh secara bergantian oleh para Abdi Dalem selama seminggu penuh, pada 20 – 25 Agustus 2026 pada pukul 08:00 – 11:00 WIB, 14:00 – 17:00 WIB, 20:00 – 23:00 WIB. Penabuhan gamelan berhenti sementara pada waktu-waktu salat fardu, dini hari, dan hari Jumat, hingga tiba waktunya Kondur Gangsa. Rentang waktu tabuhan Gamelan Sekaten inilah yang diperingati sebagai perayaan Sekaten.
Atmosfer kemeriahan Hajad Dalem Sekaten turut dirasakan oleh ribuan warga yang memadati kawasan Keraton Yogyakarta dan Kampung Kauman sejak sore hari. Banyak pengunjung yang sengaja datang dari penjuru Yogyakarta untuk menyaksikan langsung prosesi Miyos Gangsa sekaligus menikmati suasana khas Hajad Dalem Sekaten di sekitar area Masjid Gedhe.

"Saya selalu mengusahakan hadir setiap acara Miyos Gangsa. Selain ingin melihat dari dekat prosesi pemindahan gamelan dan mencari keberuntungan dapat Udhik-udhik, rasanya belum lengkap kalau belum makan nasi gurih dan endog abang (telur merah) di Masjid Gedhe," ungkap Rian, salah satu pengunjung asal Bantul.
Kehadiran pedagang kuliner tradisional di sekitar pelataran Masjid Gedhe menambah kehangatan suasana Hajad Dalem Sekaten yang selalu dirindukan masyarakat. Makanan khas seperti Nasi Gurih Sekaten, Endog Abang, Sate Gajih, dan Roti Kembang Waru menjadi hidangan yang paling dicari oleh para pengunjung usai menyaksikan prosesi Miyos Gangsa. Selain kuliner, terdapat benda khas yang dicari di Hajad Dalem Sekaten, seperti sumpil, kembang, sirih pinang, Kapal Otok-otok, Pecut Sekaten, Kreweng, Sempritan, dan Celengan.
