Image page cover

Khaul Sri Sultan HB IX: Mengenang Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat belum lama ini telah melangsungkan upacara Khaul Surud Dalem (wafatnya) Sinuhun Sultan Hamengku Buwono IX. Prosesi doa bersama digelar secara khidmat pada hari Kamis Kliwon 21 Sapar Be 1960, mulai pukul 20.00 WIB, bertempat di Kagungan Dalem Tratag Gedhong Prabayeksa.

KMT Yudawijaya menjelaskan bahwa agenda tahunan ini diselenggarakan setiap tanggal 21 bulan Sapar dalam kalender Jawa Sultanagungan untuk mendoakan mendiang, memohon ampunan, sekaligus mengenang keteladanan dan rekam jejak perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. "Khaul Surud Dalem merupakan prosesi doa yang dipanjatkan untuk memperingati wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tahun ini, prosesi doa tersebut dilaksanakan pada hari Kamis malam Jumat (06/08) dan dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10," ungkap KMT Yudawijaya.

Ds C08564

Acara khidmat ini juga dihadiri oleh para Putra Dalem Putri, Mantu Dalem, Wayah Dalem, Sentana Dalem (kerabat), serta perwakilan Abdi Dalem dari berbagai Tepas dan Kawedanan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Lantunan doa yang dipimpin oleh Abdi Dalem Kanca Kaji meliputi pembacaan Surat Al-Fatihah, zikir, sholawat, ayat-ayat suci Al-Qur'an, tahlil, hingga doa pengampunan khusus untuk almarhum Sri Sultan HB IX. Selain itu, doa keselamatan turut dipanjatkan untuk Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 beserta seluruh keluarga dan Abdi Dalem agar senantiasa dilimpahi kesehatan dan keberkahan.

Ds C08573

Seusai doa bersama, rangkaian acara ditutup dengan jamuan bersama. Makanan yang disajikan merupakan hidangan Kersanan Dalem atau menu favorit/kegemaran mendiang Sri Sultan HB IX yang kemudian dilorod (dibagikan) kepada seluruh hadirin sebagai bentuk keberkahan.

Rangkaian peringatan tidak berhenti di dalam Keraton Yogyakarta. Hari berikutnya, agenda berlanjut dengan ziarah Utusan Dalem atau kerabat keraton ke kompleks Pemakaman Raja-Raja di Imogiri, Bantul, khususnya di Kedhaton Saptarengga tempat peraduan terakhir Sri Sultan HB IX.

Ds C08650

"Usai acara (Khaul Ageng), Kawedanan Sri Wandawa berkewajiban (berkoordinasi) menyiapkan Abdi Dalem Puralaya Imogiri untuk melayani Sentana Dalem yang berziarah di Kedhaton Saptarengga,” ungkap KRT Purwasemantri dari Kawedanan Sri Wandawa.

Mengenang Warisan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia

Selama bertakhta (1940 – 1988), Sri Sultan Hamengku Buwono IX berada dalam peralihan menuju masa kemerdekaan Republik Indonesia. Mendiang telah membawa Yogyakarta memasuki abad modern, di mana Yogyakarta bukan lagi sebuah entitas negara sendiri, tetapi bagian dari negara republik. Langkah beliau yang didukung sepenuhnya oleh rakyat, di kemudian hari dibuktikan dengan beragam pengabdian yang total.

Pada masa pascakemerdekaan Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga mendedikasikan hidupnya sebagai Wakil Presiden RI ke-2 periode 24 Maret 1973 hingga 23 Maret 1978. Tidak hanya itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga berkiprah dalam dunia Pramuka.  

Img20210813 09573789 E

Selama dua dekade (1941–1961), Sri Sultan HB IX menyumbangkan harta, pikiran, dan tenaganya untuk menyatukan puluhan organisasi kepanduan yang terpecah menjadi satu wadah tunggal, yaitu Gerakan Pramuka. Beliau memelopori indigenisasi nilai-nilai kepanduan global Baden-Powell dengan menyelaraskannya bersama Pancasila, Sistem Among, dan bakti nyata masyarakat melalui program seperti Perkemahan Wirakarya dan Kampung Pramuka. 

Img20210813 10105989 E

Warisan luhur itu tak padam. Jejak langkah sang Bapak Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kini dilanjutkan oleh kedua cucunya, GKR Mangkubumi dan GKR Hayu. Keduanya turut menjaga nyala api keteladanan sang Eyang—menempa karakter dan kedaulatan mental generasi muda dalam balutan kesederhanaan, keikhlasan mengabdi, serta cinta pada tanah air.