Image page cover

Muhibah Budaya Mataraman: Rajut Kembali Perjuangan Pangeran Mangkubumi di Bumi Sukowati

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, menggelar agenda akbar Muhibah Budaya Mataraman di Kabupaten Sragen.

Acara yang mengusung tema besar pelestarian dan perekat sejarah ini berlangsung meriah hingga puncaknya pada Kamis (09/07) malam di Kantor Pemerintahan Terpadu Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Rangkaian agenda ini menjadi momentum penting untuk menyegarkan kembali ingatan masyarakat atas hubungan historis yang mendalam antara Yogyakarta dan Sragen. 

Muhibah Sragen 9 06 Small

Edukasi Budaya Lewat Lokakarya

Sebagai bagian dari rangkaian Muhibah Budaya Mataraman, diselenggarakan Lokakarya Busana Adat Gaya Yogyakarta, Lokakarya Tari, serta Lokakarya Macapat yang berlangsung pada 5-7 Juli 2026 di Sentral Industrial Kerajinan Kreatif Kabupaten Sragen. Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan, mengedukasi, dan memperkuat pemahaman masyarakat Sragen terhadap nilai, filosofi, serta tata cara berbusana adat Gaya Yogyakarta sebagai salah satu warisan budaya yang terus dijaga kelestariannya.

Melalui serangkaian lokakarya, para peserta yang terdiri dari pegiat seni dan masyarakat lokal memperoleh pembelajaran mendalam mengenai pakem busana adat, etika berbusana, hingga makna mendalam yang terkandung dalam setiap unsur budaya seperti tari dan macapat. Pelestarian budaya tidak lagi sekadar dilakukan melalui praktik lahiriah, melainkan didasari oleh pemahaman kuat terhadap nilai-nilai luhur yang menyertainya.

Muhibah Sragen 12 08 Small

Napak Tilas Perjuangan Pangeran Mangkubumi di Bumi Sukowati 

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 melakukan napak tilas perjuangan Pangeran Mangkubumi di titik-titik petilasan bersejarah yang tersebar di wilayah Sragen, seperti Pendapa Pandak, Gua Mangkubumi, Petilasan Sentana, dan Sendang Sumberan.

Muhibah Sragen 26 13 Small

Kehadiran Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 disambut hangat oleh warga sekitar petilasan, sekaligus menjadi simbol penghormatan generasi masa kini terhadap rute gerilya para leluhur dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

Muhibah Sragen 31 15 Small

Langkah ini menjadi penegas bahwa pemilihan Sragen sebagai tujuan Muhibah Budaya didasari oleh ikatan sejarah yang kuat. Secara historis, Sragen yang dahulu dikenal sebagai Bumi Sukowati merupakan basis perjuangan Pangeran Mangkubumi (yang kelak bertakhta pada 1755-1792 sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I) dalam perang gerilya melawan Belanda sebelum ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Di tanah Sukowati inilah semangat perlawanan dan fondasi awal trah Mataram Yogyakarta dibentuk. Agenda ini menjadi salah satu momentum yang berkesan dalam rangkaian Muhibah Budaya  pada Kamis (09/07) pagi sebelum malam puncak.

Muhibah Sragen 19 11 Small

Malam Puncak Diplomasi Budaya Lewat Tari dan Macapat

Malam puncak Muhibah Budaya Mataraman berlangsung dengan meriah dan khidmat. Hadir langsung Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, didampingi Bupati Sragen Sigit Pamungkas, serta jajaran Forkopimda setempat.

Dalam sambutannya, Sri Sultan menyampaikan bahwa Sragen merupakan saudara tua Daerah Istimewa Yogyakarta. “SARI PATI ajaran Budaya Mataram, salah satunya termuat dalam Serat Sastra Gendhing,  pupuh Sinom padha 3: Marma sagung Trah Mataram, kinen wignya tembung Kawi. Pupuh itu menyiratkan pesan, agar Trah Mataram secara arif memetik hikmah bahasa Kawi, yang memuat ajaran filsafat pembentuk jati diri manusia Jawa, dalam menjalankan laku utama. Dalam konteks acara hari ini, jejak peristiwa di Pendapa Pandak, adalah rangkaian laku utama itu. Jejak itu juga yang menjadikan Sragen layak disebut sebagai saudara tua Daerah Istimewa Yogyakarta. Sukowati bukanlah sekadar persinggahan, melainkan salah satu pilar yang menopang lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat,” ungkap Sri Sultan.

Muhibah Sragen 5 02 Small

Pada kesempatan ini, Keraton Yogyakarta menghadirkan pertunjukan Tari Golek Kutut Manggung dan Tari Beksan Lawung Ringgit yang merupakan Yasan (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono I. Selain itu, para peserta lokakarya juga berkesempatan unjuk kepiawaian menari dan nembang Macapat. 

Bupati Sragen menyambut hangat dan penuh haru kehadiran rombongan dari Yogyakarta. “Rangkaian Muhibah Budaya diisi dengan sejumlah aktivitas yang didukung oleh Provinsi DIY mulai dari seminar dan pameran Kesejarahan, aneka workshop warisan budaya, sampai pada Festival Budaya Mangkubumen dan berpuncak pada Pagelaran seni di malam ini. Yang lebih istimewa, muhibah ini sekaligus Napak Tilas Ngarsa Dalem Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X ke berbagai lokasi bersejarah perjuangan Pangeran Mangkubumi, seperti Pendapa Mangkubumi di Krikilan, Gua Persembunyian Mangkubumi di Gebang, Petilasan Sentana di Katelan Tangen, dan Sendang Sumberan di Japoh Jenar, yang itu hanya dilaksanakan di Kabupaten Sragen,” ujar Bupati Sragen Sigit Pamungkas.

Muhibah Sragen 8 05 Small

Bupati Sragen Sigit Pamungkas juga menyatakan suka-cita yang sebesar-besarnya atas pergelaran Muhibah Budaya Sragen. Harapannya momentum ini kembali membangkitkan dan mempererat tautan hati (sambung-roso) antara Sragen dengan Yogyakarta, sekaligus nguri-uri kebudayaan Jawa yang adiluhung.