Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon 20 Juli 2026: Spesial Hari Anak Nasional
- Senin, 17 Agustus 2026
Beberapa waktu lalu, Keraton Yogyakarta telah menyelenggarakan Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin Pon (20/07) atau 4 Sapar Be 1960. Pergelaran tersebut merupakan bagian dari peringatan kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Gelaran ini secara rutin dilaksanakan oleh Kawedanan Kridhamardawa, untuk menjaga kelestarian gendhing dan tarian warisan wangsa Mataram.
Pertunjukan digelar di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan dan dapat disaksikan oleh pengunjung secara luring melalui sistem reservasi tanpa biaya dengan skema reservasi yang telah disediakan. Peserta luring wajib mematuhi pranatan untuk menjaga tata krama dan keluhuran suasana pertunjukan. Bagi masyarakat yang belum bisa hadir secara luring, Keraton Yogyakarta menyiarkan pergelaran ini via Kanal YouTube Kraton Jogja mulai pukul 19.00 WIB.

Daftar Komposisi Sajian Gendhing
|
No. |
Jenis/Bagian |
Judul Gendhing |
Laras dan Pathet |
|
1 |
Gendhing Pambuka |
Ladrang Raja Manggala |
Slendro Pathet Nem |
|
2 |
Gendhing Soran |
Gendhing Jomba → Kendhangan Jangga → jangkep sadhawahipun |
Pelog Pathet Nem |
|
3 |
Gendhing Lirihan I |
Gendhing Dolanan, Grup Karawitan Anak “Omah Cangkem” → Menthok-menthok, Kucingku, Kupu Kuwi, Pendhisil, Bang-bang Wisrahina, Jaranan, Gajah-gajah, Nyata Kowe Wasis, Pitik Walik Jambul. |
Pelog Pathet Nem |
|
4 |
Gendhing Lampah Beksan |
Gendhing Lampah Beksan Golek Layung Seta |
Pelog Pathet Nem |
|
5 |
Gendhing Lirihan II |
Gendhing Gagarmayang → Kendhangan Candra → jangkep sadhawahipun → minggah Ladrang Jaka Lola |
Slendro Pathet Manyura |
|
6 |
Gendhing Lirihan III |
Gendhing Glebag → Kendhangan Candra → jangkep sadhawahipun → minggah Ketawang Tawang Sekar |
Slendro Pathet Manyura |
|
7 |
Gendhing Panutup |
Ladrang Sri Kondur |
Slendro Pathet Manyura |
Penampilan Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini menghadirkan suasana yang berbeda dari biasanya. Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, pergelaran Uyon-Uyon Hadiluhung secara khusus memberikan ruang bagi generasi muda dalam melestarikan seni karawitan. RB Kumudamatoyo menerangkan bahwa Grup Karawitan Anak Omah Cangkem berkesempatan sebagai pengisi, menghadirkan sajian gendhing dolanan yang sarat nilai budaya dan pendidikan karakter.

"Momentum Hari Anak Nasional menjadi kesempatan yang baik untuk menghadirkan anak-anak sebagai pelaku utama dalam sajian karawitan. Melalui keterlibatan mereka, proses pewarisan nilai-nilai budaya tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran, tetapi juga melalui pengalaman berkesenian secara langsung," terang RB Kumudamatoyo.
Sajian karawitan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung disusun dalam beberapa bagian yang menggambarkan struktur klasik pertunjukan gamelan di lingkungan Keraton Yogyakarta, yaitu gendhing pambuka, gendhing soran, gendhing lirihan, gendhing lampah beksan, dan gendhing panutup. Selain menghadirkan rangkaian gendhing klasik dengan struktur pakem karawitan keraton, Uyon-Uyon Hadiluhung 20 Juli 2026 juga menampilkan beberapa sajian gendhing dengan karakter dan garap musikal yang berbeda dari biasanya.
Salah satu rangkaian berbeda terdapat pada bagian Gendhing Lirihan I, menghadirkan komposisi gendhing dolanan yang telah lama dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa, yakni Menthok-menthok, Kucingku, Kupu Kuwi, Pendhisil, Bang-bang Wisrahina, Jaranan, Gajah-gajah, Nyata Kowe Wasis, dan Pitik Walik Jambul, semuanya berlaras pelog pathet nem. Keseluruhan sajian disusun dengan tetap mempertahankan karakter musikal Gendhing Dolanan sebagai media pembelajaran sekaligus pelestarian seni.
Gendhing Dolanan merupakan salah satu warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter. Melalui syair-syair yang sederhana dan mudah dipahami, anak-anak diajak belajar mengenai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, serta penghormatan terhadap sesama dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan budi pekerti yang diwariskan secara turun-temurun melalui seni tradisi.

Penampilan Beksan Golek Layung Seta
Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini juga menghadirkan pertunjukan tari putri Beksan Golek Layung Seta. Tarian ini diciptakan sekitar tahun 1906, hampir bersamaan dengan Golek Gambir Sawit dan Golek Kutut Manggung. Tarian tersebut diciptakan di Ndalem Wirogunan oleh KRT Wiraguna, putra dari KGPA Mangkubumi. Golek Layung Seta menggambarkan seorang perempuan yang sedang bersolek dengan perasaan gembira lantaran kasmaran.
Tidak jauh berbeda dengan Golek Jangkung Kuning dan Golek Kutut Manggung, tari Golek ini dahulunya ditarikan oleh seorang sinden yang memiliki kemampuan menari. Pada waktu itu, tari golek biasanya dipentaskan di akhir pementasan Langendriyan (dramatari dengan dialog tembang yang bersumber dari cerita Damarwulan) sebagai ajakan untuk mencari makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam pementasan Langendriyan. Awalnya, tari Golek Layung Seta ditarikan oleh seorang pesindhen keraton pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang bernama Rukmini, dan selanjutnya ditarikan oleh sinden-sinden pada masa itu.
Nama Layung Seta diambil dari nama gending utama pengiringnya, yaitu Gendhing Layung Seta, sedangkan arti Layung Seta merupakan awan putih atau dapat juga dimengerti sebagai pelangi di awan putih.
Penataan komposisi karawitan pengiring tarian ini memiliki kekhasan tersendiri. Gendhing Ayak-Ayak yang umumnya disajikan pada awal dan akhir tarian, di sini justru ditempatkan pada bagian inti serta diselingi oleh Gendhing Layung Seta sehingga menciptakan irama yang sangat dinamis. Tarian ini didominasi oleh motif gerak milir yang lincah dan kenes, sesuai dengan karakteristik umum tari Golek. Kekhasan lain dari tari Golek Layung Seta adalah intensitas penggunaan ragam nggurdha, mengingat ragam gerakan pokok sebelum kebar senantiasa diawali dengan ragam tersebut.

Tim Pendukung Pertunjukan
Untuk menghadirkan pementasan yang tertib dan selaras, pertunjukan ini melibatkan sejumlah Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang teknis, serta peran panggung, berikut di antaranya:
Paraga Beksa (Penari)
- Daniati Putri Sari
- Nirwasita Pinesti Widawati
- Savina Aurellia Paviyani
- Emi Damayanti
- Nuvinda Rahmadhani
Pamucal Beksa
- Nyi MW Widya Wahyu Budaya
- Nyi Ry Haskaraningrum
Pembaca Kandha: KMT Suryowasesa
Keprak: MB Kucalamataya
Pambiwara: RB Cermowacana