Image page cover

Keanggunan Busana Abdi Dalem Estri Beri Nuansa Baru di Konser Warawaditra “Untukmu Kartiniku”

Suasana Sasana Hinggil Dwi Abad Keraton Yogyakarta, berubah menjadi panggung megah yang sarat akan makna pada Selasa malam (21/04). Dalam gelaran konser Warawaditra bertajuk “Untukmu Kartiniku”, Keraton Yogyakarta melalui Kawedanan Kridhamardawa menyuguhkan terobosan baru yang membedakan konser ini dari edisi-edisi sebelumnya: peragaan busana lengkap Abdi Dalem Estri.

03 03 Small

Jika konser musik lazimnya hanya berfokus pada melodi, malam itu panggung justru menjadi etalase hidup kekayaan tradisi busana Keraton Yogyakarta. Peragaan busana ini tampil sebagai napas utama yang mengawinkan keanggunan perempuan keraton dengan musik orkestra.

01 01 Small

Di sela-sela alunan musik yang dibawakan oleh para Warawaditra—orkestra perempuan, para peraga tampil bergantian memamerkan koleksi busana yang jarang terlihat secara utuh di depan publik. Penonton diajak menyelami filosofi dan estetika di balik busana yang dikenakan para Abdi Dalem sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.

Ragam busana yang ditampilkan meliputi Busana Keparak dengan menampilkan detail semekan ubet-ubet dan kampuh keparak yang klasik, Busana Peran Khusus seperti peran Manggung, Pengampil, Bedhaya, dan Dhudhukan. Ada Busana Geladi dan Harian seperti padintenan, ubet-ubet, kampuh, semuwan, hingga rompen. Serta busana dari golongan Palawija, Langenkusuma, Panji, Sersan, Jajar, Emban, Inya, Suster, tangkeban, janggan, Sipat Bupati Putri, hingga Abdi Dalem Putri mirunggan.

02 02 Small

Sajian visual ini memberikan kesan mendalam bagi tamu undangan yang hadir, termasuk Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, GKR Hemas, GKR Condrokirono, GKR Hayu, KPH Notonegoro, GKBRAA Paku Alam, Ketua Forum Jalasenastri, segenap jajaran Forkopimda DIY, perwakilan organisasi perempuan di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta para tamu undangan dari berbagai kalangan.

04 04 Small

Panggung Refleksi dan Perjuangan Perempuan

Keistimewaan konser ini semakin terasa dengan hadirnya musikus dan paduan suara yang hampir seluruhnya perempuan. Lima solois perempuan berbakat, yakni Riana Heath (biola), Tutty Zefanya Sianturi (terompet), Victoria Ilona Asandra (gitar), Rachel Nadia Abiela (piano), dan Win Yovina Thopandi (vokal) tampil memukau membawakan berbagai repertoar nasional maupun daerah seperti Ibu Kita Kartini, Ibu Pertiwi, Melati di Tapal Batas, Melati Suci, hingga Concerto Pertiwi. Hal ini menjadi simbol bahwa perempuan kini berperan aktif sebagai penggerak dalam pelestarian budaya.

06 06 Small

Salah satu penampil, solois piano Rachel Nadia Abiela, mengaku konser kali ini memiliki kesan mendalam baginya. Selain menjadi penampilan spesial, momen tersebut juga menjadi pengalaman pertamanya tampil sebagai solois dalam format women orchestra. “Penampilan hari ini spesial dan jadi kali pertama saya jadi solois di format women orchestra. Di momen kali ini, semua repertoar yang dimainkan menyangkut tentang kiprah perempuan, terlebih karya yang saya bawakan Melati di Tapal Batas itu tentang perjuangan para gadis remaja dalam membantu perjuangan. Kerja keras dan daya juangnya patut kita contoh,” ujarnya.

Rachel Nadia Abiela menambahkan bahwa membawakan karya tersebut membuatnya cukup emosional, sekaligus menyadarkan pentingnya momentum peringatan Hari Kartini untuk mengangkat peran perempuan yang kerap luput dari sorotan.

08 08 Small

Sementara itu, Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hemas dalam sambutan menyatakan bahwa konser ini merupakan ruang untuk meneguhkan peran perempuan masa kini. “Malam ini bukan sekadar pertunjukan seni, ini adalah ruang refleksi, ruang penghormatan, sekaligus ruang peneguhan bahwa semangat Kartini terus hidup tidak hanya dalam sejarah, tetapi dalam diri setiap perempuan hari ini. Kartini berbicara tentang keberanian berpikir dan bertindak melampaui zamannya. Ia adalah kita, perempuan yang hadir di berbagai lini kehidupan, yakni sebagai pemimpin, penggerak budaya, pendidik, pekerja, ibu, sekaligus penjaga nilai-nilai luhur bangsa,” ungkap GKR Hemas. Prameswari Dalem juga menambahkan bahwa menjadi Kartini masa kini berarti melanjutkan perjuangan dengan mengambil peran di kehidupan masing-masing. “Maka menjadi Kartini hari ini bukan sekadar mengenang, tetapi melanjutkan. Bukan sekadar merayakan, tetapi mengambil peran. Kita semua perempuan yang hadir di sini adalah Kartini dalam kehidupan kita masing-masing.”

05 05 Small

Melalui konser Warawaditra “Untukmu Kartiniku”, Keraton Yogyakarta tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni berkualitas, tetapi juga menegaskan bahwa semangat Kartini terus hidup dalam karya, pengabdian, dan keberanian perempuan masa kini.