Simposium Internasional Budaya Jawa 2026: Upaya Refleksi, Pemaknaan Baru Arsitektur, dan Tata Kota Kesultanan Yogyakarta
- 26-04-2026
Dalam rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dan GKR Hemas, Keraton Yogyakarta kembali menggelar Simposium Internasional Budaya Jawa. Simposium tersebut diselenggarakan di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta pada 11-12 April 2026 dan mengangkat tema Arsitektur, Tata Ruang, dan Wilayah Kesultanan Yogyakarta. Memasuki gelaran kedelapan, agenda tahunan ini kembali menarik peneliti, akademisi, peneliti, serta pemerhati budaya dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Perhelatan di hari pertama dihadiri oleh 450 peserta secara luring dan 130 orang secara daring. Sementara, hari kedua dihadiri 350 peserta secara luring dan 65 peserta secara daring. Ini merupakan salah satu bukti bahwa ajang tersebut telah menjadi salah satu agenda ilmiah bergengsi.

Dalam sambutan pembukaan, Putri Dalem GKR Hayu selaku Ketua Panitia Simposium menyampaikan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono I telah meletakkan fondasi arsitektur dan tata ruang yang visioner. Sri Sultan HB I tak hanya membangun Yogyakarta secara konsentris, tetapi juga menciptakan penanda yang menegaskan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Namun, lanjut GKR Hayu, tata ruang tersebut menjalani perjalanan yang tidak statis. Keraton Yogyakarta terus menghadapi tantangan zaman, mulai dari negosiasi tata ruang pada zaman kolonial, peristiwa Geger Sepehi, hingga dinamika modern setelah Indonesia merdeka. “Melalui simposium ini, kami ingin menggali kembali bagaimana nilai-nilai Tata Rakiting Wewangunan dan batas-batas wilayah agar tetap relevan sebagai identitas kultural di tengah gerak cepat perkembangan kota,” ujar Gusti Hayu.

Berkelas Dunia
Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 dibuka secara resmi oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dan dihadiri oleh Putri Dalem GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, dan Mantu Dalem KPH Notonegoro serta KPH Yudanegara.

Panitia menerima 132 karya ilmiah dari berbagai penjuru dunia. Setelah dikurasi secara ketat oleh para reviewer pakar, yaitu Prof. Dr. Drs. R.M. Pramutomo, M.Hum, Prof Koji Miyazaki, Dr. Verena Mayer, Dr. Helene Njoto, dan Prof. Bakti Setiawan tersaring beberapa makalah yang mengkaji tema tersebut melalui perspektif sejarah, arkeologi, filosofi, seni dan satra, sosiologi, arsitektur, serta perencanaan ruang dan lanskap.

Panelis Rizky Ramadhani Satrio Wibisono, S.Ark (UGM) misalnya, menyoroti efektivitas Benteng Baluwarti sebagai perangkat pertahanan militer dalam peristiwa Geger Sepehi dari kacamata arkeologis. Sementara Asst. Prof. Ts. Dr. Irina Safitri Zen (International Islamic University Malaysia) memaparkan studi komparasi antara Sumbu Filosofis Yogyakarta dengan tata Kota Beijing dan Paris. Panelis-panelis lain mempresentasikan studi yang tak kalah menarik, mulai artikulasi pendapa di Keraton Yogyakarta dalam kaitannya dengan pertunjukan tari, hingga arsitektur makam-makam tua di Pasareyan Kagungan Dalem.

Reviewer Dr. Verena Meyer dari (Leiden Institute of Area Studies) menyatakan banyaknya makalah yang berkualitas tinggi menjadi tantangan yang menyenangkan, “Pada akhirnya, saya memprioritaskan makalah-makalah yang tidak hanya menawarkan kontribusi yang unik—misalnya dengan mengangkat sumber-sumber baru atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang segar—tetapi juga yang berani menarik kesimpulan-kesimpulan yang bermakna bagi bidang kajian budaya secara lebih luas, sekaligus memperdalam pemahaman kita tentang budaya Jawa.”

Menurutnya, simposium tahunan ini memiliki peran sangat signifikan, tidak hanya bagi perkembangan kajian budaya Jawa itu sendiri, tetapi juga bagi Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan, bagi Indonesia secara lebih luas, dan bahkan bagi komunitas akademis global. Rangkaian acara budaya yang menyertai simposium memadukan kajian teoretis dengan pengalaman menyaksikan seni dan budaya yang hidup di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Ruang Diskusi
Pelaksanaan Simposium diawali dengan pertunjukan Beksan Kuda Gadhingan yang ditampilkan oleh para penari Kawedanan Kridhamardawa. Tari ini merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan HB V yang mengisahkan pertarungan Raden Kuda Gadhingan dari Kerajaan Jenggala melawan Patih Mandra Sudira dari Kerajaan Pudhak Sategal untuk memperebutkan Dewi Candrakirana. Dibawakan oleh sepuluh penari pria, tari ini mengejawantahkan filosofi kiblat papat lima pancer yang tidak lazim digunakan dalam tari kakung. Warna-warni kostum penari merupakan simbol nafsu manusia. Kuning melambangkan sifat mutmainah atau sinar, putih supiyah (kesucian), hitam aluamah (makan) dan merah amarah (kemurkaan).

Pada hari kedua, GKR Hayu dan KRT Suryo Satriyanto, Penghageng Kawedanan Panitikisma, tampil secara khusus dalam sesi Keraton Updates untuk menyampaikan poin-poin penting terkait Revitalisasi Kawasan Keraton Yogyakarta dan pemanfaatan Sultan Ground, termasuk tata cara untuk mendapatkan izin dan aturan pengelolaannya.

Thibburruhany, M.Sos, panelis dari Universitas Mercu Buana yang juga praktisi bidang visual memandang simposium ini sebagai salah satu gelaran keraton yang paling visioner. “Keraton tidak hanya membicarakan aku mbiyen, aku mbiyen (masa lalu), tetapi aku besok begini.”
Lebih lanjut ia mengatakan simposium ini memiliki peran besar bagi akademisi dan praktisi muda, yaitu membuka ruang baru dan ruang kreatif yang bisa dimanfaatkan dengan maksimal. “Harapannya memang tulisan-tulisan itu tidak hanya sekadar dipublikasikan dan dibicarakan tetapi juga diimplementasikan menjadi sebuah terobosan yang saya yakin Keraton Yogyakarta sangat membutuhkan ini untuk kemudian hari,” ujarnya.

Ratna Kartika Sari selaku guru Bahasa Daerah dari SMKN 1 Ngawen Gunungkidul yang dua tahun berturut-turut menghadiri Simposium Internasional Budaya Jawa ini menyatakan ia mendapatkan tambahan pengetahuan dan informasi terkini terkait bahasa dan kebudayaan Jawa. “Materi-materi yang disampaikan menambah khazanah ilmu baru. Yang dahulu cuma dibaca dari buku, ini bisa mendengar dari sumbernya langsung. Pemateri juga menyampaikan materi dengan sangat menarik.”
Daffa Arka, mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur UGM yang datang bersama teman-temannya sangat terkesan dengan penyelenggaraan simposium tahun ini. “Satu kata, mungkin ‘wow’ karena banyak pembicara dengan reputasi yang oke dan dengan tingkat pendidikan yang tinggi, seperti para profesor, rektor, hingga perwakilan institusi perwakilan luar negeri juga.”

GKR Bendara menyampaikan sambutan penutup yang menekankan kembali bahwa tata ruang dan arsitektur di Yogyakarta bukan sekadar fisik bangunan, melainkan pengejawantahan dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawono (memperindah dan menjaga harmoni dunia). “Pada akhirnya, dari ruang akademis yang begitu kompleks ini, diperlukan praktik-praktik terbaik untuk merealisasikan diskusi-diskusi kritis agar berdampak pada masyarakat.”

Gusti Bendara juga mengumumkan tema simposium tahun depan (2027) yang selalu dinanti-nanti serta diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para peneliti untuk mulai mempersiapkan abstrak dengan baik. “Bertepatan dengan berakhirnya simposium serta dalam upaya menjaga keberlangsungan diskusi, dengan ini diluncurkan tema tahun depan, Tata Nilai dan Pendidikan di Kasultanan Yogyakarta.”