Pendar Cahaya Kebijakan: Wejangan Hidup Lakon Panji Jaya Berdangga Sambut Malam 1 Sura
- Rabu, 24 Juni 2026
“Dhug…dhog…dhog.” Bunyi keprak yang samar-samar seperti hentakan kaki kuda terdengar pada setiap penjuru Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul. Seperangkat pertunjukan wayang, seperangkat gamelan, tenda, bentangan tikar, serta para hadirin memenuhi tempat untuk merayakan momentum Mangayubagya Warsa Enggal 1 Sura Be 1960, pada Selasa malam (16/06).
Perayaan Tahun Baru Islam kali ini, Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menyelenggarakan pergelaran Ringgit Wacucal Cariyos Gedhog. Pertunjukan Wayang Gedhog ini mengambil cerita Panji dengan lakon Jaya Berdangga yang berlangsung sekitar 4 jam mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB oleh dalang MB Wignyoutomo.

Sekitar pukul 18.30, para hadirin mulai berdatangan di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul, tepat di sisi belakang (utara) Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad. Pertunjukan Jaya Berdangga yang digelar sebelum Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng malam 1 Sura tersebut dinilai sebagai opsi yang pas bagi para pencinta tradisi yang ingin menyambut Tahun Baru Jawa tahun ini.
Menjadi momen penting dalam penanggalan Jawa, malam 1 Sura merupakan waktu perenungan, introspeksi diri, serta memperkuat nilai spiritual. Pergelaran Wayang Gedhog yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta ini mengajak seluruh hadirin untuk dapat meresapi setiap ajaran luhur yang terkandung dalam kisah pewayangan sebagai wejangan kehidupan sekaligus bentuk pelestarian budaya bangsa. Pada kesempatan kali ini, lakon Jaya Berdangga dipilih karena memuat kisah kompleks yang erat dengan kehidupan masyarakat. Kisahnya, memuat perjuangan hidup, kesetiaan kepada pasangan, produksi gamelan, hingga kesuburan tanah jawa yang dihadirkan melalui perjalanan kehidupan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji/Candrakirana.

“Pengalaman ini cukup berkesan karena biasanya saya lebih sering menikmati Wayang Kulit Purwa yang mengambil kisah Mahabharata atau Ramayana. Wayang Gedhog dengan lakon Jaya Berdangga menjadi pengalaman pertama saya menonton wayang di luar spektrum yang biasa saya kenal. Saya dan keluarga merasakan sebuah pengalaman baru yang tentunya dapat kami nikmati bersama-sama,” ungkap Elvan, salah satu hadirin yang berkesan terhadap pergelaran ini.
Jaya Berdangga mengisahkan tentang upaya penyamaran Raden Panji dalam mencari syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung. Syarat ini dinamakan ‘Sari Swara Renggani Jagad’ yaitu suara yang menghiasi bumi (gamelan). Dalam lakunya, Raden Panji mencari siapa pun yang dapat menciptakan/mencari sesuatu yang bisa mengeluarkan suara untuk memperindah dunia. Pencarian ini tak lain adalah demi menyambung generasi penerus takhta Kerajaan Jenggala dan Kediri. Godaan dan rintangan datang karena ulah para senapati dari negara seberang ke Keraton Kediri untuk menggagalkan upaya Raden Panji. Namun atas kegigihan Raden Panji, syarat pemintaan tersebut dapat terpenuhi bersama dengan lahirnya bayi laki-laki yang dikandung Dewi Sekartaji.

“Kalau dari isi pertunjukannya sendiri, menurut saya sudah cukup lengkap. Ada unsur hiburan yang membuat penonton tetap menikmati jalannya cerita, ada nilai-nilai filosofis yang disampaikan melalui tema dan lakonnya, dan ada juga nilai historis yang menurut saya sangat menarik. Karena jujur saja, tidak banyak masyarakat yang mengenal cerita-cerita tentang kehidupan dan dinamika kerajaan-kerajaan Nusantara pada masa lalu seperti yang ditampilkan dalam Wayang Gedhog,” tambah Elvan.
Pada pementasan kali ini, sebagian besar wayang yang digunakan adalah Wayang Gedhog Yasan (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono V. Sebagai pelengkap, terdapat Wayang Kerucil Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono VI serta beberapa wayang milik Habirandha sepuh yang mayoritas merupakan Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Perangkat Gawang Kelir Naga yang digunakan merupakan Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sementara itu, gangsa (gamelan) yang digunakan adalah Kanjeng Kiai Harjamulya berlaras Pelog Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Pagelaran Ringgit Gedhog ini menjadi rangkaian lampah ratri atau mubeng beteng. Usai pementasan, tiga belas bendera kanayakan yaitu Geniroga (Kepatihan), Pandhan Binethot (Gedhong Kiwa), Gadhung Mlathi (Gedhong Tengen), Bantheng Ketaton (Siti Sewu), Alas Kobar (Bumija), Bango Tulak Panumping, Kunir Pita Numbak Anyar, Podhang Nglayang Jeksa, Gula Klapa Pangulon, Bima Kurda Gladhag, Dara Muluk (Mataraman), Tiga Warna (Kulon Praga), dan Kuntul Andanu (Gunungkidul) dibawa oleh tiga belas Abdi Dalem Prajurit.
Para Abdi Dalem disertai dengan masyarakat yang menonton pergelaran Jaya Berdangga berbaris rapi dan berjalan bersama ke utara menuju titik kumpul Mubeng Beteng (Pelataran Kamandungan Lor). Rute yang dilalui yaitu Regol Gadhung Mlathi dan Pelataran Bangsal Magangan, menuju arah timur melewati Jalan Kemagangan Wetan, kemudian ke utara melewati Jalan Kasatriyan, lalu pada pertigaan Kemitbumen ke arah barat sampai Pelataran Kamandungan Lor atau Bangsal Ponconiti.
MB Cermo Gupito, salah satu Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa yang mengemban tugas sebagai pimpinan produksi menuturkan, “Pementasan Wayang Gedhog dengan lakon Jaya Berdangga ini harapannya dapat menjadi inspirasi kita bersama. Hal ini menjadi jalan kita untuk melaksanakan laku reflektif sebagai bekal mengarungi tahun baru yang lebih baik lagi.”