Dalam Keheningan, Abdi Dalem dan Masyarakat Sambut Warsa Enggal Be 1960 dengan Lampah Budaya Mubeng Beteng
- Jumat, 19 Juni 2026
Bagi masyarakat Jawa, tahun baru yang diperingati setiap tanggal 1 Sura menjadi momentum reflektif dan kontemplatif. Bulan Sura sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa pun menjadi masa penting untuk membersihkan diri dalam menyambut tahun yang baru. Dalam rangka Mangayubagya Warsa Enggal Be 1960, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menyelenggarakan beberapa agenda yang bersifat Hajad Dalem (agenda yang diselenggarakan oleh keraton), seperti Siraman Pusaka yang akan digelar pada 7-8 Juli 2026 mendatang dan Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji: Lampahan Jaya Berdangga pada Selasa (16/06), maupun Hajad Kawula Dalem (agenda yang diinisiasi oleh masyarakat) seperti Lampah Budaya Mubeng Beteng.
“Jadi agenda ini memang bukan Hajad Dalem milik Keraton Yogyakarta ya, tetapi inisiatif dari Abdi Dalem dan masyarakat dalam rangka nyengkuyung keraton sebagai pusat kebudayaan. Secara sosial dan kolektif, kami bersama-sama menjalankan Lampah Budaya Mubeng Beteng ini, menyatukan rasa untuk menjalani refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik,” ungkap Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumonegoro.

Kanjeng Kusumonegoro juga mengungkap bahwa dalam beberapa tahun terakhir, agenda ini kemudian difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. “Jadi dukungan fasilitasi dari Kundha Kabudayan terus hadir dari tahun ke tahun, sebab Mubeng Beteng ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2015. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk ikut andil dalam proses pelestarian ini,” tambah Rully Andriadi, S.S., Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan & Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Dinas Kebudayaan DIY.
Selasa (16/06) malam usai azan Isya berkumandang, tampak Abdi Dalem dengan busana pranakan dan kebaya jangkep mulai memadati Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti. Tak lama berselang, usai genta delapan kali berdentang, lantunan tembang Macapat mengalun merdu membawakan kidung pengharapan untuk tahun baru yang lebih baik. Masyarakat dari berbagai kalangan pun perlahan mulai memadati area pelataran Kamandungan Lor, tampak antusias menyimak pembacaan Macapat sembari menanti waktu dimulainya Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng yang digelar untuk memasuki tahun baru Jawa 1 Sura Be 1960.

“Untuk prosesi kali ini, setelah dilepas oleh penghageng dari keraton, kemudian yang menjadi pandega (pemimpin barisan sekaligus membawa bendera merah putih) adalah Kanjeng Raden Tumenggung Kintaka Srisoedarmo,” papar KRT Wijayapamungkas, perwakilan dari Paguyuban Abdi Dalem.
Kanjeng Wijayapamungkas juga menyampaikan bahwa makna dari Mubeng Beteng (mengelilingi benteng baluwarti) ini sendiri adalah introspeksi dan mawas diri. “Sambil berjalan kita meneng (diam), tetapi bukan diam pasif, namun sambil mengevaluasi diri. Di samping itu juga memohon kepada Yang Mahakuasa agar suasana Indonesia pada umumnya, khususnya Yogyakarta tetap ayom ayem tentrem,” tambah Kanjeng Wijayapamungkas.

Malam makin larut, lantunan Macapat pun berhenti sekitar pukul 23.00 WIB. Semua bersiap untuk prosesi pemberangkatan peserta Lampah Budaya Mubeng Beteng jelang Warsa Enggal Be 1960. Tiga belas bendera kanayakan pun telah tiba dari Kagungan Dalem Kamandungan Kidul bersama 13 Abdi Dalem Prajurit yang bertugas membawa bendera tersebut pada prosesi Mubeng Beteng. Tak lama berselang, Putri Dalem GKR Mangkubumi, GKR Bendara, dan Mantu Dalem KPH Purbodiningrat ditemani Wayah Dalem, RM Radityo Mandhala Yudo, berkenan hadir untuk melepas keberangkatan peserta Mubeng Beteng.
Sang saka merah putih kemudian diserahkan kepada KRT Kintaka Srisoedarmo selaku pandega, dan sekar sumping berupa bunga kantil disematkan kepada para pembawa bendera oleh GKR Mangkubumi. Tepat ketika genta berdetang dua belas kali, barisan kemudian berangkat diawali dari barisan bendera, rombongan Abdi Dalem, kemudian masyarakat umum yang hadir di Kamandungan Lor.

Ribuan warga yang memadati jalur Mubeng Beteng bergabung di belakang barisan utama hingga membuatnya makin mengular panjang. Rute ritual ini melewati Jalan Kauman, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan Brigjen Katamso, dan Jalan Ibu Ruswo, sebelum akhirnya memasuki Alun-Alun Utara dan kembali ke Kamandungan Lor. Di tengah keheningan, masyarakat tetap antusias mengabadikan momen dan menjadi bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Jawa Be 1960.
