Geliat Tiga Bulan Pameran Smarabawana: Hidupkan Narasi Tata Ruang Lewat Instalasi Interaktif dan Jelajah Budaya
- Kamis, 18 Juni 2026
Sejak resmi dibuka pada 8 Maret 2026, Pameran Temporer "Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta" terus memikat antusiasme publik secara luas hingga menapak di bulan ketiga. Pada awal Juni 2026, pameran yang mengupas tuntas filosofi, arsitektur, dan kosmologi tata ruang kota Yogyakarta tercatat telah menyedot perhatian 124.752 pengunjung. Menariknya, arus kunjungan kali ini secara signifikan didominasi oleh generasi muda yang tampak antusias menyelami akar sejarah dan tata kota warisan leluhurnya. Pesona ekshibisi ini bahkan turut menarik perhatian sejumlah figur publik dan pesohor tanah air, mulai dari pembuat konten Fujianti Utami (Fuji An), musisi tradisi modern Ndarboy Genk, hingga jajaran tokoh nasional seperti Komisaris Utama Garuda Indonesia, Marsekal TNI (Purn.) Fadjar Prasetyo, yang menyempatkan diri mengapresiasi langsung koleksi adiluhung yang dipamerkan.

Tingginya keterlibatan emosional pengunjung di dalam ruang pamer digambarkan secara gamblang oleh pihak lini depan yang berinteraksi langsung dengan publik setiap harinya. "Antusiasme pengunjung terbilang sangat tinggi, terutama untuk mencoba berbagai instalasi interaktif yang kami sediakan, seperti area peta peperangan Pangeran Mangkubumi, ruang imersif, sengkalan, bilik foto, hingga ruang hening. Sebagian besar pengunjung yang didominasi oleh anak muda dan siswa sekolah ini tidak sekadar berfoto, melainkan aktif menggali informasi serta bertanya lebih dalam terkait narasi yang diangkat dalam pameran," ujar Romli, Koordinator Pramu Galeri Pameran Smarabawana. Fenomena ini menjadi bagian bahwa pendekatan visual dan ruang eksperiensial yang dirancang oleh tim kuratorial untuk menjembatani komunikasi sejarah masa lalu dengan cara pandang generasi kontemporer.

Keberhasilan Smarabawana dalam mempertahankan magnetnya selama tiga bulan ini juga tidak lepas dari konsistensi penyelenggaraan berbagai program pendukung (side events) yang interaktif dan edukatif. Keraton Yogyakarta bersama tim kuratorial telah menyelenggarakan serangkaian agenda strategis, di antaranya adalah tur kuratorial yang memberikan sudut pandang mendalam mengenai narasi setiap artefak, serta tur Kebun Raja di Pesanggrahan Ambarrukmo yang mengajak peserta menapaki langsung ruang tinggal historis Sultan. Selain itu, pameran ini juga menjadi ruang dialektika ilmiah melalui Public Lecture #1 yang membedah tema besar pembangunan Yogyakarta dalam kacamata kosmologi dan tata ruang, yang kemudian diimbangi dengan pendekatan populer melalui kegiatan kreatif seperti lokakarya ragam motif tegel klasik yang berkolaborasi dengan Serasa Tegel.

Guna menjaga dinamika pameran dan terus merangkul berbagai segmen masyarakat, rangkaian agenda pendukung ini dipastikan masih akan terus bergulir dengan variasi program yang tidak kalah memikat. "Berbagai side event masih akan kami gelar secara berkala hingga awal Agustus nanti. Agenda yang paling dekat dalam waktu dekat ini adalah bersepeda menyusur sejarah, yang akan mengajak Sahabat Kraton untuk bersepeda bersama di kawasan Pesanggrahan Ambarbinangun. Di sana, peserta tidak hanya diajak menyelami kisah sejarah yang ada, tetapi juga mendapatkan kesempatan langka untuk mengeksplorasi langsung kompleks bangunan pesanggrahan yang selama ini tidak terbuka untuk umum," papar Eksi Kumala Sari, Koordinator Side Event Pameran Smarabawana.

Melengkapi agenda bersepeda sejarah tersebut, memasuki bulan Juli yang bertepatan dengan momen libur sekolah, sebuah program khusus berupa garden tour interaktif telah dipersiapkan untuk menyasar pengunjung anak-anak. Edukasi berbasis budaya untuk generasi paling belia ini juga akan diperkuat melalui kegiatan lokakarya melukis gerabah tradisional, sebuah agenda kolaboratif yang menggandeng Museum Gerabah untuk mengenalkan seni tanah liat Nusantara.
Dengan sisa waktu pelaksanaan yang masih membentang hingga 26 Agustus 2026, Pameran Smarabawana tidak hanya berdiri sebagai sebuah ruang pameran statis, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat aktivasi kebudayaan yang hidup di Yogyakarta. Bagi masyarakat umum, akademisi, maupun pelancong yang ingin memahami bagaimana ruang, rasa, dan kebijakan para pendahulu Mataram berpadu dalam membentuk lanskap Yogyakarta hari ini, pameran temporer ini masih membuka pintunya lebar-lebar untuk memberikan pengalaman budaya yang utuh dan mendalam. Mari Berkunjung!
