Image page cover

Pameran Temporer ‘Ing Lakon”, Kolaborasi Budaya Keraton Yogyakarta dan Museum Bank Indonesia

Keraton Yogyakarta kembali menegaskan peran aktifnya dalam merawat memori kolektif bangsa sekaligus memperluas jangkauan edukasi sejarah melalui langkah diplomasi budaya. Dalam pembukaan Pameran Temporer "Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi" yang resmi dibuka pada Rabu (03/06), di Museum Bank Indonesia, Keraton Yogyakarta mengambil andil krusial dengan meminjamkan koleksi adiluhung berupa busana pertunjukan Wayang Wong. Kehadiran koleksi ini bukan sekadar pelengkap ruang pamer, melainkan pasak autentik yang menghidupkan kembali narasi sejarah moneter pra-kemerdekaan. Langkah sinergi kultural lintas institusi ini dihadiri dan diresmikan langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara selaku Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya, yang mewakili pihak Keraton Yogyakarta dalam merayakan titik temu antara keluhuran seni istana dan rekam jejak finansial bangsa.

01 01 Small

Keterlibatan Keraton Yogyakarta dalam pameran "Iŋ Lakon" ini menjadi kunci dalam mengupas sejarah penerbitan uang kertas De Javasche Bank (DJB) Seri Wayang era 1930-an. Seri uang tersebut hingga kini dinilai sebagai salah satu mata uang dengan desain estetis berkat visualisasi karakter wayang orang yang begitu detail. Guna menghadirkan keaslian sejarah tersebut ke hadapan publik urban, Keraton Yogyakarta meminjamkan set busana legendaris yang menjadi dasar visual rancangan uang kertas masa lalu tersebut. Di antaranya adalah satu set Busana Arjuna, yang merepresentasikan kehalusan karakter kesatria utama sebagaimana yang terabadikan pada uang kertas pecahan f100 dan f1000. Selain itu, dihadirkan pula satu set Busana Gatotkaca yang dilengkapi dengan ornamen khas kesatria dirgantara yang perkasa, saksi visual yang mendasari ilustrasi pada pecahan f200. Kehadiran fisik busana-busana ini memberikan kesempatan bagi masyarakat luas untuk mengagumi dari dekat keagungan wastra, detail tatah, hingga kerumitan ragam hias prada asli yang masih terjaga utuh meski telah berusia seabad. Tentu, tanpa kehadiran koleksi autentik dari dalam bangsal keraton ini, narasi sejarah uang kertas Seri Wayang tentu tidak akan tersampaikan secara utuh dan sehidup sekarang.

02 02 Small

Lebih dari itu, Kagungan Dalem koleksi yang diboyong menuju Jakarta ini juga menyimpan nilai historis yang luar biasa. Dua set busana yang dipinjamkan, diproduksi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939), sebuah periode yang dalam catatan sejarah kebudayaan diakui sebagai salah satu puncak keemasan dan kemegahan seni pertunjukan Wayang Wong gaya Yogyakarta. Nilai eksklusivitas artefak ini kian menguat karena pada masanya, busana-busana tersebut dikenakan langsung oleh para Putra Dalem—putra-putra Sultan Hamengku Buwono VIII—saat mementaskan lakon-lakon agung di dalam keraton. Kenyataan ini menegaskan bahwa materi yang tersaji di ruang pameran bukan sekadar pakaian pertunjukan biasa atau replika kontemporer, melainkan saksi bisu peristiwa yang memiliki kedekatan personal dengan keluarga kerajaan dan dibuat dengan standar estetika tertinggi istana.

04 04 Small

Melalui peminjaman koleksi berharga ini, Keraton Yogyakarta menunjukkan sikap keterbukaan yang dinamis dalam mendukung pemahaman sejarah nasional secara komprehensif. Di dalam ruang pamer Museum Bank Indonesia, koleksi gagrak Yogyakarta ini dipadukan secara harmonis dengan kontribusi kebudayaan dari instansi lainnya. Sinergi antar lembaga ini berhasil mengangkat tema mata uang melalui kacamata seni pertunjukan Wayang Wong lintas wilayah, khususnya Yogyakarta dan Surakarta. Dukungan Keraton Yogyakarta ini pada akhirnya menunjukkan kepada publik bahwa uang kertas tidak pernah berdiri sendiri sebagai alat transaksi ekonomi semata, melainkan berfungsi sebagai medium komunikasi budaya yang merekam pengakuan dunia atas tingginya peradaban seni Jawa. Pameran temporer ini kini menjadi ruang dialektika yang terbuka bagi umum di Museum Bank Indonesia, mengajak setiap pengunjung untuk membaca kembali perannya masing-masing dalam menjaga kelangsungan lakon sejarah bangsa.