Digelar Sederhana, Garebeg Besar Dal 1959/2026 Berlangsung Lancar
- Selasa, 16 Juni 2026
Usai menggelar Garebeg Sawal pada Idulfitri 1447 H/2026 lalu (20/03), Keraton Yogyakarta kembali menghadirkan Hajad Dalem Garebeg Besar pada momentum Iduladha 1447H/2026 pada Rabu (27/05) dengan prosesi yang lebih sederhana. Sejak bel berdentang delapan kali dari pelataran Kagungan Dalem Kamandungan Lor, sejumlah Penghageng Kawedanan, Carik, Pengajeng Urusan, Pengirit Golongan, dan Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta mulai berdatangan dan berjajar rapi di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sekitar pukul 09.00 WIB, sejumlah Abdi Dalem Kanca Kaji mengawali prosesi pembagian ubarampe pareden dengan memimpin doa bersama secara khidmat. Usai didoakan, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Wironegoro, dan KPH Notonegoro membagikan 4000 buah ubarampe pareden berupa rengginang kepada perwakilan Abdi Dalem yang hadir untuk selanjutnya dibagikan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan. Turut hadir dan berpartisipasi dalam jalannya pembagian ubarampe pareden sedari pagi hingga siang, Wayah Dalem RM Manteyyo Kuncoro Suryonegoro.

Adapun rengginang adalah kue ketan berwarna putih dan berbentuk bundar. Selain rengginang, terdapat tlapukan yang terbuat dari ketan beraneka warna dan berbentuk bintang. Setiap rengginang dan tlapukan dihiasi dengan kucu dan upil-upil. Kucu berbentuk bulatan kecil berwarna putih sedangkan upil-upil berbentuk persegi panjang dan dibuat dalam lima warna, putih, merah, kuning, hijau, dan hitam.
“Total ubarampe pareden rengginang yang dibagikan kepada Abdi Dalem sejumlah 4000 buah ini menyesuaikan jumlah keseluruhan Abdi Dalem yang terdata. Sehingga harapannya setiap Abdi Dalem mendapatkan 1 buah rengginang sebagai wujud Paring Dalem,” papar KRT Kusumonegoro, salah satu Abdi Dalem senior berpangkat Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta.
Beberapa perwakilan Abdi Dalem juga tampak bergotong royong membawakan ratusan rengginang untuk sesama Abdi Dalem lain yang telah menanti di tepas Kawedanan masing-masing, seperti Kawedanan Kridhamardawa dan Kawedanan Kaprajuritan yang tercatat memiliki ratusan Abdi Dalem.

Dhawuh Dalem Terkait Penyederhanaan Garebeg
Perubahan rangkaian prosesi Hajad Dalem Garebeg ini sesuai dengan Dhawuh Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10. “Betul bahwa kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem (menerima dhawuh/perintah dari Sultan) untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari Garebeg Besar ini,” ungkap KRT Kusumonegoro.
Menurut Kanjeng Kusuma–sapaan akrabnya–ketika Ingkang Sinuwun sudah paring Dhawuh Dalem atau memberikan perintah/instruksi, maka Abdi Dalem akan melaksanakan tugas yang diinstruksikan sebaik-baiknya. Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo menambahkan bahwa sejatinya upacara Garebeg pada masa ke masa juga seringkali mengalami perubahan, sesuai dengan zamannya.

“Mulai dari era Sultan terdahulu yang menghadirkan Garebeg sebagai upacara terbesar lengkap dengan kehadiran Sultan dan regalianya, kemudian sempat mengalami penyederhanaan pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan pada masa pemerintahan Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 ini juga ada perubahan bentuk upacara Garebeg ketika pandemi Covid-19 melanda. Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,” tambah Kanjeng Sindurejo.
Oleh sebab itu, pemberian sedekah dari raja kepada kawula tetap diwujudkan dengan pembagian ubarampe pareden kepada seluruh Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta. “Secara prosesi, karena ada dhawuh untuk disederhanakan, jadi secara penyelenggaraan mirip seperti Garebeg ketika pandemi Covid-19 kemarin. Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden hanya dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta,” tambah Kanjeng Kusumonegoro.

Dengan demikian, rangkaian upacara yang mengawali Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1959 juga ditiadakan sebagai bagian dari penyederhanaan prosesi Garebeg. Prosesi seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang sedianya digelar tiga hari sebelum penyelenggaraan Garebeg Besar pun ditiadakan. “Sesuai arahan yang kami terima, para Abdi Dalem tentu melaksanakan Dhawuh Dalem tersebut dengan sebaik-baiknya,” tutup KRT Kusumonegoro.