Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon 6 April 2026
- 06-04-2026
Setelah vakum selama satu bulan sepanjang bulan Ramadan, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin, 6 April 2026 atau 18 Sawal Tahun Dal 1959, bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pergelaran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
Pertunjukan ini dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat umum melalui sistem reservasi terbatas. Selain itu, pertunjukan juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Kraton Jogja, sehingga masyarakat luas tetap dapat mengikuti jalannya acara.

Struktur Sajian Gendhing
|
No |
Jenis/Bagian |
Judul Gendhing |
Laras dan Pathet |
|
1. |
Gendhing Pambuka |
Ladrang Prabu Mataram |
Laras Slendro Pathet Sanga |
|
2 |
Gendhing Soran |
Gendhing Ameng Gita, Kendhangan Sarayuda jangkep sadhawahipun |
Laras Pelog Pathet Nem
|
|
3 |
Gendhing Lirihan I |
Gendhing Merak Kasimpir, Kendhangan Lahela dhawah Ladrang Prabu Tama |
Laras Slendro Pathet Manyura |
|
4 |
Gendhing Lampah Beksan |
Bedhaya Kuwung-Kuwung |
Laras Pelog Pathet Barang |
|
5 |
Gendhing Lirihan II |
Bawaswara Sekar Dhandhanggula Padasih, katampen Gendhing SembunggilangKendhangan Candra jangkep sadhawaipun, minggah Ketawang Angleng |
Laras Slendro Pathet Sanga |
|
6 |
Gendhing Lirihan III |
Lagon Panunggul Laras Pelog Pathet Nem, Jineman Ledhung-Ledhung, Kendhangan Pinatut, kalajengaken Gendhing Sari Retna Kendhangan Sarayuda, dhawah Ladrang Puspitasari Minggah Ketawang Janggasari |
Laras Pelog Pathet Nem |
|
7 |
Gendhing Panutup |
Ladrang Tedhak Saking |
Laras Pelog Pathet Barang |

Penampilan Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini memiliki perbedaan, karena para siswa SMKI akan membawakan rangkaian gendhing uyon-uyon tersebut.
“Pada sajian dalam Uyon-Uyon Hadiluhung tanggal 6 April 2026, rangkaian gendhing tersebut (kecuali gendhing lampah beksan) disajikan oleh grup Karawitan Siswa Konsentrasi Keahlian Seni Karawitan SMK Negeri 1 Kasihan (SMKI Yogyakarta),” ujar MJ Subokastowo selaku penata gendhing uyon-uyon.
Selain itu, para siswa SMKI akan menyajikan satu gendhing Yasan (karya) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
“Gendhing ini bernama Gendhing Sari Retna Laras Pelog Pathet Nem, Kendhangan Sarayuda. Dhawah Ladrang Puspitasari, minggah Ketawang Janggasari Laras Pelog Pathet Nem. Rangkaian gendhing tersebut adalah gendhing baru yang diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Secara umum, rangkaian tersebut telah didesain agar mudah untuk dibawakan oleh pemain gamelan di luar Keraton Yogyakarta.”
Sajian karawitan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung disusun dalam beberapa bagian yang menggambarkan struktur klasik pertunjukan gamelan di lingkungan Keraton Yogyakarta, yaitu gendhing pambuka, gendhing soran, gendhing lirihan, gendhing lampah beksan, dan gendhing panutup. Selain menghadirkan rangkaian gendhing klasik dengan struktur pakem karawitan keraton, Uyon-Uyon Hadiluhung 6 April 2026 juga menampilkan beberapa sajian gendhing dengan karakter dan garap musikal yang memiliki kekhasan tersendiri.

Salah satu rangkaian yang berbeda terdapat pada bagian Gendhing Lirihan II, yang menghadirkan Bawaswara Sekar Dhandhanggula Padhasih katampen Gendhing Gambirsawit Sembunggilang Kendhangan Candra, dilanjutkan minggah Ketawang Angleng yang diselingi Rambangan Dhandhanggula Baranglaya, seluruhnya dalam laras slendro pathet sanga. Berikut fakta mengenai rangkaian gendhing tersebut.
- Bawaswara Sekar Dhandhanggula Padhasih disajikan oleh vokalis putra dengan idiom tembang Macapat Dhandhanggula. Syair dalam tembang ini memuat rangkuman Sabda Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 mengenai kebudayaan. Sabda Dalem tersebut merupakan pesan penting yang kerap disampaikan dalam setiap jeda pertunjukan Uyon-Uyon Hadiluhung yang digelar rutin pada malam Selasa Wage di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
- Gendhing Gambirsawit Sembunggilang laras slendro pathet sanga dengan Kendhangan Candra menghadirkan suasana musikal yang segar dan riang. Karakter tersebut semakin terasa melalui garap vokal pasindhen yang memberi warna dinamis dalam keseluruhan sajian gendhing.
- Ketawang Angleng laras slendro pathet sanga. Gendhing ini memiliki kekhasan pada garap balungan, kendhangan, serta vokal dan sindhenan yang terasa ringan, segar, dan ekspresif. Dalam penyajiannya, ketawang ini diselingi dengan Rambangan Dhandhanggula Baranglaya, yang memuat kisah mengenai sejarah serta waktu awal mula berdirinya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kekhasan lainnya terdapat pada rangkaian gendhing berikutnya, yaitu Jineman Ledhung-Ledhung yang dilanjutkan dengan Gendhing Sari Retna Kendhangan Sarayuda, dhawah Ladrang Puspitasari, dan minggah Ketawang Janggasari, seluruhnya dalam laras pelog pathet nem. Berikut beberapa fakta mengenai gendhing tersebut.
- Jineman Ledhung-Ledhung merupakan gendhing yang dipopulerkan oleh mendiang Nyi Condrolukito. Syair dalam jineman ini mengungkapkan ungkapan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, sehingga menghadirkan nuansa emosional yang hangat dalam sajian karawitan.
- Rangkaian Gendhing Sari Retna, Ladrang Puspitasari, dan Ketawang Janggasari merupakan karya gendhing yang diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Penampilan Bedhaya Kuwung-Kuwung
Dalam Uyon-Uyon Hadiluhung 6 April 2026, Kawedanan Kridamardawa juga menyajikan Bedhaya Kuwung-Kuwung, salah satu tari bedhaya klasik dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Bedhaya Kuwung-Kuwung diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877–1921). Berdasarkan kandha yang menyertai, tarian ini mengisahkan peristiwa penganugerahan Ageman Dalem berupa Bintang Besar Kumendur dari Gubernur Hindia Belanda kepada Sultan Yogyakarta. Peristiwa tersebut mencerminkan hubungan politik dan diplomatik antara Keraton Yogyakarta dan pemerintah kolonial pada masa itu. Narasi mengenai tarian ini dicatat dalam naskah K.131-B/S 9 yang tersimpan di Perpustakaan Widya Budaya. Naskah tersebut tidak hanya memuat teks sindhenan, tetapi juga uraian naratif mengenai prosesi penganugerahan bintang kehormatan tersebut.
Sebagaimana pakem tari bedhaya, Bedhaya Kuwung-Kuwung ditarikan oleh sembilan penari perempuan. Pertunjukan diawali dengan kapang-kapang maju, yaitu prosesi masuknya para penari ke ruang pertunjukan secara anggun dan teratur. Ragam gerak lembut berpadu dengan pola lantai khas bedhaya, antara lain rakit lajur, rakit ajeng-ajengan, rakit iring-iringan, rakit tiga-tiga, dan rakit gelar, yang membentuk komposisi gerak yang harmonis serta sarat makna simbolik.
Sebagai bagian dari khazanah seni tradisi Keraton Yogyakarta, Bedhaya Kuwung-Kuwung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2018. Dalam Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini, tarian dipentaskan dalam versi singkat (jugag) dengan tetap mempertahankan esensi estetika, struktur gerak, dan nilai historisnya.

Uyon-Uyon Hadiluhung yang secara rutin diselenggarakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi salah satu wujud nyata upaya pelestarian seni budaya yang terus dijaga dan hadir sebagai ruang pewarisan nilai budaya kepada masyarakat luas.
Tim Pendukung Pertunjukan
Kelancaran penyelenggaraan pertunjukan ini didukung oleh tim penggarap teknis acara antara lain:
Paraga Patuh (Penari Utama)
- Dhiwya Pasthika
- Nurma Mitzuhu Nurika
- Dyah Widyaningrum
- Nabila Kezia Ratna Dewanti
- Sekar Mawardah Sari Ananta
- Putri Elok Prabawijaya
- Silvia Exsa Fernanda
- Syakirina Sheryl Mazzaya
- Diyah Amalia
Paraga Bela (Penari Cadangan)
- Ayumna Rajwa Susdarmanto Putri
- Adinda Cahya
- Liza Bitana Qilbi
Pamucal Beksa
- Nyi KRT Murtiharini
- Nyi RRiya Condroningrum
Paraga Pengirit Beksa
- Nyi RRiya Pujaningrum
- Nyi RRiya Rayungsari
- Nyi RRiya Haskaraningrum
- Nyi RL Sastrawidyakartika
Penata Gendhing Beksan: MRiya Susilomadyo
Penata Gendhing Uyon-Uyon: MJ Subokastowo
Pembaca Kandha: KMT Dwijasupadmo
Keprak: KMT Suryowasesa
Penata Busana: Nyi MJ Silihsumekto
Pimpinan Produksi: MJ Birowo