Delapan Dasawarsa Sri Sultan, Bersahaja Merawat Napas Rakyat
- 05-04-2026
Langit Yogyakarta berselimut doa dan harapan dalam peringatan Mangayubagya 80 Taun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, Kamis (02/04) atau 14 Sawal Dal 1959. Angka delapan puluh bukan sekadar pergantian angka; melainkan dikenal dengan istilah Tumbuk Ageng, siklus sakral yang menandai kematangan paripurna seorang insan, serupa oase kedewasaan pada Tumbuk Ageng pertama saat manusia berusia 64 tahun.

Momentum Mangayubagya 80 Taun Yuswa Dalem dalam kalender Masehi ini tak hanya diperingati di lingkungan Keraton Yogyakarta, melainkan juga diekspresikan melalui berbagai kegiatan oleh masyarakat. Salah satunya agenda Gelaran Rakyat, kirab yang diikuti sekitar 13.000 peserta yang terdiri dari Panewu/Mantri Pamong Praja, Lurah, Pamong/Perangkat Kalurahan, dan Lembaga Kemasyarakatan dari 438 kalurahan dan kelurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejak pukul 07.30 WIB, peserta kirab bergerak ritmis dari tiga titik yakni Malioboro, Jalan Panembahan Senopati, dan Jalan KH. Ahmad Dalem menuju Keraton Yogyakarta. Peserta kirab berjalan secara berurutan dimulai dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunungkidul. Setiap Kabupaten/Kota menghaturkan pisungsung atau persembahan glondhong pangareng-areng, berupa hasil bumi setiap wilayah yang dihaturkan kepada Ingkang Sinuwun di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran.

Anek Pala kependem (umbi-umbian), pala gumantung (buah-buahan), dan pala kesimpar (tanaman merambat), rempah-rempah, sayur-mayur, hingga unggas, menjadi ragam jenis ubarampe yang dihaturkan untuk Sinuwun. Ubarampe ini merupakan simbol dari doa yang dipanjatkan agar Ingkang Sinuwun senantiasa pinaringan panjang yuswa, serta terus membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Pukul 11.00 WIB, setelah penyerahan ubarampe dari 5 wilayah administratif di DIY, Sri Sultan mempersilakan kelima Putra Dalem Putri GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara memberikan Paring Dalem kepada Bupati/Wali Kota se-DIY sebagai simbol bahwa seluruh ubarampe yang telah dihaturkan, sepenuhnya kembali kepada masyarakat. Prosesi ini turut disaksikan Mantu Dalem KPH Wironegoro, KPH Purbodiningrat, KPH Notonegoro, dan KPH Yudanegara. Tak ketinggalan Permaisuri GKR Hemas, Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, para budayawan, kerabat dekat, dan tokoh masyarakat yang turut hadir di lokasi.

“Saya mengucapkan terima kasih dan berharap semua sama-sama sehat. Saya kira pemberian hasil bumi dari masyarakat ini saya kembalikan lagi untuk masyarakat secara simbolis melalui Bupati/Wali Kota. Saya harap bisa dibagi secara merata dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Sinuwun.
Merawat Marwah dengan Kesahajaan
Di tengah kemeriahan Gelaran Rakyat dengan belasan ribu peserta dan Putra Dalem yang berbusana Jawa gaya Yogyakarta, terdapat satu kontras visual di mana Sang Raja tampil bersahaja. Sinuwun tampil berbalut kemeja batik, tanpa mengenakan busana kebesaran yang sarat atribut singgasana.
Pilihan busana yang tampak sederhana tersebut mengandung filosofi mendalam. Hal ini mengarah pada teknis protokoler kerajaan. Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol status dan kehadiran kekuasaan. Jika Sinuwun mengenakan ageman kebesaran (seperti surjan lengkap dengan keris dan kuluk), maka secara otomatis standar protokoler keraton yang ketat harus diberlakukan.

Dengan pemberlakuan protokoler, Sinuwun selanjutnya harus didampingi Ampilan Dalem (regalia simbol kebesaran raja seperti banyak, dhalang, sawung, galing, dan sebagainya) atau Songsong (payung agung) yang dipayungkan oleh Abdi Dalem. Hal ini dapat mengubah kesan suasana pertemuan rakyat yang hangat menjadi upacara kenegaraan istana yang sakral.
Di sisi lain, ketika seorang raja mengenakan atribut kebesaran secara utuh, secara filosofis raja adalah pusat semesta di ruangan tersebut. Sehingga tidak boleh ada orang lain yang memimpin jalannya kegiatan, termasuk pembawa acara atau pemimpin kegiatan lainnya. Dengan berbusana batik, Sinuwun secara simbolis melepaskan atribut kekuasaan pada kegiatan yang memang diinisiasi rakyat.

Bagi seorang pemimpin, sejatinya kemuliaan tidak lagi diukur dari tingginya singgasana, melainkan dari seberapa dekat kemampuan menyentuh napas rakyatnya. Tampilnya Sinuwun dengan busana batik yang bersahaja ini seolah sedang meruntuhkan sekat antara raja dan jelata. Menegaskan bahwa pada usia yang ke-80, pengabdian dan kedekatan dengan rakyat jauh lebih utama daripada sekadar atribut kemegahan takhta.
Dirga Yuswa, Ingkang Sinuwun!