Wayangan Bedhol Songsong Sawal Dal 1959 Angkat Nilai Kejujuran dan Kesetiaan Kisah Tugu Indradi
Jumat Legi (20/03), bertepatan dengan 1 Sawal Dal 1959, Keraton Yogyakarta kembali menggelar pagelaran wayang kulit Bedhol Songsong secara terbuka di Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad sebagai rangkaian pungkasan Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959. Lakon yang ditampilkan pada pagelaran kali ini diambil dari bagian epos Ramayana, bertajuk Tugu Indradi, yang dibawakan oleh Mas Lurah Cermo Radyoharsono.

Selain dihadiri langsung oleh masyarakat umum, pementasan tersebut juga dapat dinikmati melalui siaran langsung kanal YouTube Kraton Jogja. Tidak hanya itu, pergelaran ini juga menyediakan terjemahan bahasa Inggris secara langsung oleh Dr. Kathryn “Kitsie” Emerson, baik bagi penonton di lokasi maupun melalui kanal YouTube, sehingga membantu penonton asing untuk memahami alur cerita yang disampaikan.

Adanya terjemahan spontan tersebut mendapat apresiasi dari penonton. “Penerjemahan yang dihadirkan merupakan kunci penting agar wayang tetap hidup, dipahami, dan dinikmati lintas generasi maupun lintas bangsa. Wayang tidak akan kekurangan penonton, yang dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang mampu menjembatani maknanya,” ungkap Tjahjono Rahardjo salah seorang penonton asal Semarang.
Sebelum pementasan dimulai, KPH Notonegoro selaku Penghageng II Kawedanan Kridhamardawa melaksanakan prosesi pasrah-tampi sebuah Wayang Tugu Yasan Enggal (wayang baru) yang menjadi ikon lakon Tugu Indradi. Berbeda dengan pementasan pada tahun-tahun sebelumnya yang kerap mengangkat kisah dari epos Mahabharata, kali ini lakon yang ditampilkan merupakan bagian dari epos Ramayana. Sejalan dengan hal tersebut, simpingan wayang yang tersusun rapi di sisi kanan dan kiri kelir menampilkan deretan tokoh dari kisah Ramayana. Simpingan wayang tengen didominasi tokoh bala wanara (prajurit kera), sedangkan simpingan wayang kiwa didominasi tokoh bala yaksa (prajurit raksasa) Alengka.

Sekitar pukul 21:00 WIB, Mas Lurah Cermo Radyoharsono memulai memukul kotak dibarengi dengan dicabutnya (bedhol) dua songsong agung sebagai pertanda berakhirnya Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959. Dengan alunan iringan gamelan Kanjeng Kiai Harjanagara dan Kanjeng Kiai Harjamulya, pertunjukan pun dimulai.

Kisah ini bermula dari Dewi Indradi yang mengkhianati cinta Prabu Gajendramuka, kemudian ia berpaling cinta kepada Raden Gutama. Pernikahannya dengan Raden Gutama, membawa keyakinan Dewi Indradi bahwa Raden Gutama adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Impian itu ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan dalam kehidupan rumah tangga. Sebab, bayangan akan masa lalu dan cinta pertama Dewi Indradi, yakni Batara Surya, menyebabkan kehancuran rumah tangga Dewi Indradi dan Raden Gutama. Pada akhirnya, bayangan akan masa lalu tersebut membawa Dewi Indradi pada karma yang harus dijalani dalam diam, yakni menjelma menjadi sebuah tugu sebagai ujian atas kejujuran dan kesetiaannya.

Kisah kehidupan Dewi Indradi secara tersirat mengajarkan pentingnya kejujuran dan kesetiaan dalam membina rumah tangga. Permasalahan tidak akan pernah selesai jika dipendam dalam diam; sebaliknya, kehidupan yang dijalani saat ini menuntut keberanian untuk menuntaskan bayang-bayang masa lalu. Selain itu, kisah ini juga memperlihatkan bahwa dosa dan rahasia kelam orang tua dapat membawa dampak penderitaan bagi keturunannya.
PALING BANYAK DIBACA
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas