Hajad Dalem Ngabekten Dal 1959: Lebaran di Keraton Berlangsung Khidmat
- 25-03-2026
Keraton Yogyakarta baru saja menyelenggarakan Hajad Dalem Ngabekten Dal 1959/2026 selama dua hari, Jumat (20/03) dan Sabtu (21/03). Momentum ini dilaksanakan sebagai rangkaian agenda peringatan Idulfitri 1447 Hijriah, seperti halnya pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal, Jumat (20/03). Di keraton, Ngabekten merupakan bentuk bakti dan penghormatan kepada Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, selayaknya tradisi sungkeman yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya saat momentum Lebaran.

Secara umum, prosesi Ngabekten dihaturkan kepada Sinuwun Ka 10 dengan cara Ngaras Jengku atau mencium lutut kanan Sultan. Terkecuali, bagi kerabat yang berusia lebih tua dari Sultan, prosesi Ngabekten dilakukan dengan cara Sembah Karna atau mengangkat kedua telapak tangan setinggi daun telinga, seperti halnya yang dilakukan Adipati Paku Alam X kepada Sri Sultan.
Pada hari pertama, diselenggarakan Pisowanan Ngabekten Kakung (laki-laki) di Kagungan Dalem Bangsal Kencana, Kompleks Kedhaton. Pukul 09.00 WIB, Ngabekten Hageng Kakung, sesi pertama dari keempat sesi hari pertama, dimulai. Pada momentum ini, Adipati KGPAA Paku Alam X, ketiga Mantu Dalem (KPH Wironegoro, KPH Purbodiningrat, dan KPH Yudanegara), BPH Kusumo Bimantoro, Sentana Dalem Kakung, dan Abdi Dalem laki-laki berpangkat Bupati menghaturkan sungkem kepada Sinuwun Ka 10. Turut hadir Wali Kota Yogyakarta, Bupati Bantul, Bupati Sleman, dan Bupati Kulon Progo bersama para wakilnya, serta Wakil Bupati Gunungkidul.

Menurut KRT Kusumanegara, terdapat perbedaan tata cara atau Pranatan Ngabekten khususnya Ngabekten Hageng Kakung pada zaman dahulu dan sekarang. “Pada masa sebelum pemerintahan Sultan Hamengku Buwono IX, posisi Sultan tidak lenggah siniwaka di kursi, melainkan lenggah (duduk) di bawah bersama dengan hadirin lainnya. Namun seiring dengan pertambahan usia Sultan Hamengku Buwono IX, penyesuaian kemudian dilakukan dengan kursi hingga masih berlangsung sampai sekarang,” jelasnya.

Lewat tengah hari di lokasi yang sama, prosesi dilanjutkan dengan Ngabekten Gangsal Jungan pada pukul 13.00 WIB. Sesi kedua ini diperuntukkan bagi Abdi Dalem Punakawan berpangkat Wedana ke atas, para Abdi Dalem Prajurit berpangkat Bupati serta Mantu Dalem KPH Notonegoro yang pagi harinya masih bertugas di Hajad Dalem Garebeg Sawal.

Pada pukul 14.00 WIB, prosesi dilanjutkan dengan Ngabekten Darah Dalem di Tratag Gedhong Prabayeksa untuk Wayah Dalem Kakung atau cucu laki-laki dari Sultan yang pernah bertakhta. Cucu dari Putra Dalem Putri tertua yakni RM Drasthya Wironegoro mengawali sungkem pangabekten kepada Eyang Sinuwun Ka 10, diikuti putra GKR Hayu dan KPH Notonegoro yakni RM Manteyyo Kuncoro Suryonegoro yang kedua kalinya mengikuti Ngabekten Wayah Dalem dan kemudian dilanjutkan oleh para cucu laki-laki dari raja yang pernah bertakhta sebelumnya.
Sesi terakhir dari Ngabekten Kakung ini adalah Mirunggan selepas bada Isya. Sesi ini diperuntukkan bagi Abdi Dalem yang berkaitan dengan urusan keagamaan; Kanca Kaji, Kanca Suranata, Kanca Pengulon, serta Abdi Dalem Juru Kunci (penjaga Kagungan Dalem; masjid, makam, dan petilasan). Sungkem pangabekten diawali oleh para Abdi Dalem Pengulon dan kemudian diakhiri oleh Abdi Dalem Juru Kunci (Puralaya).

Hari kedua, Sabtu (21/03) merupakan pelaksanaan Ngabekten Putri. Bertempat di Tratag Gedhong Prabayeksa, sungkem pangabekten kepada Sinuwun Ka 10 dihaturkan secara berurutan oleh Permaisuri GKR Hemas, Putri Dalem GKR Mangkubumi, GKBRAy Adipati Paku Alam (istri Adipati Pakualaman), dan disusul keempat Putra Dalem Putri lainnya.
Prosesi Ngabekten selanjutnya dihaturkan kakak Sultan, Garwa Pangeran, Wayah Dalem Putri, Sentana Dalem Putri, serta Abdi Dalem putri golongan Punakawan dan Kaprajan. Turut hadir Bupati Gunungkidul, serta istri pejabat lainnya setingkat wali kota, bupati, dan wakilnya. Selepas Ngabekten Putri Hageng, pada pukul 13.00 WIB, Sinuwun HB Ka 10 kembali miyos di Tratag Gedhong Prabayeksa untuk menerima sungkem dari seluruh Abdi Dalem Keparak pada sesi Ngabekten Abdi Dalem Putri.

Keterlibatan seluruh Abdi Dalem Keparak utamanya yang berpangkat Jajar pada sesi ini merupakan kali kedua dilaksanakan sesuai dengan Pranatan Lampah-lampah Hajad Dalem Garebeg Sawal. Adapun prosesi Ngabekten Putri hari kedua diakhiri dengan pelaksanaan Ngabekten Abdi Dalem Keparak yang diikuti seluruh staf Ndalem Kilen kepada Permaisuri GKR Hemas di Pendapa Ndalem Kilen.
Seluruh rangkaian prosesi ini tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, namun memancarkan kekhidmatan yang menjadi simbol keteladanan serta kebersahajaan seorang raja. “Menjadi peraturan tidak tertulis sejak dahulu, bahwa begitu Sultan lenggah siniwaka, tak ada satu pun yang berani bersuara maupun bergerak, semua tunduk menghadap lantai sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Sebagaimana filosofi dalam dunia pewayangan, digambarkan bahwa saat sang raja miyos, bahkan belalang dan jangkrik pun tiada bersuara,” tambah KRT Kusumanegara. Hal ini tentu menunjukkan kewibawaan dan keagungan seorang pemimpin yang mampu menciptakan harmoni dalam senyap, sebuah nilai luhur yang tetap relevan untuk diteladani hingga saat ini.
