Image page cover

Fragmen Beganjar/Makanjar dan Kridha Bramastra: Revitalisasi dan Inovasi Gladhi Resik Prajurit

Sebanyak 14 kesatuan Prajurit Keraton Yogyakarta telah melaksanakan Gladhi Resik Prajurit pada Sabtu (14/03). Hal ini sebagai langkah untuk menyukseskan pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959 yang berlangsung pada Jumat (20/03). Geladi Bersih biasanya dilakukan dengan rute perjalanan dari Pelataran Kagungan Dalem Kamandungan Kidul ke arah utara menuju Magangan-Kedhaton-Pagelaran-Masjid Gedhe-Ndalem Mangkubumen hingga kembali ke Kamandhungan Kidul, namun dalam Geladi Bersih kali ini kembali mengulang sejarah dengan digelar secara terbuka di Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan Yogyakarta. 

Pukul 15.30 WIB, seluruh kesatuan prajurit bergegas melakukan prosesi Nyadong Dwaja di Kagungan Dalem Kamagangan sebagai awal mula rangkaian geladi. Dwaja atau bendera kebesaran masing-masing prajurit kemudian dibawa ke Kagungan Dalem Kamandhungan Kidul. Para prajurit dari tiap kesatuan telah berbaris rapi untuk kemudian dilakukan inspeksi terkait kelengkapan prajurit oleh KPH Notonegoro selaku Manggalayuda dengan didampingi oleh Kanca Kagunan (Abdi Dalem Tata Busana). 

Gladi Website 02 02 Small

Tepat sesuai jadwal, pukul 16.00 WIB, KPH Notonegoro mulai memberangkatkan prajurit menuju Alun-Alun Selatan. Urutannya dimulai dari Jager, Suranata, Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero-Langenastra, Nyutra-Miji Sumahatmaja, Langenkusuma, Surakarsa, Bregada Kadipaten Pakualaman, dan terakhir Bugis. 

Tepat di tengah Alun-Alun Selatan, Bregada Dhaeng menyajikan fragmen Beganjar/Makanjar, yaitu sebuah tarian yang diadaptasi dari musik pakanjara (musik pengiring upacara adat di Makassar) sebagai bentuk penghormatan. Ini merupakan salah satu bagian dari revitalisasi yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Setelah seluruh kesatuan dan Manggala Prajurit berjajar rapi, Prajurit Surakarsa, Bugis, serta dua kesatuan prajurit dari Pura Pakualaman turut bergabung di Alun-Alun Selatan disambut dengan tiga tembakan salvo. Antuasisme masyarakat makin terlihat kala dua kelompok Kridha Bramastra dari Bregada Wirabraja dan Bregada Mantrijero menghadirkan kolone senapan. Atraksi baris-berbaris yang dikombinasikan dengan teknik memainkan senjata api (senapan) secara seragam ini menampilkan kekompakan dan ketangkasan prajurit. Fragmen Beganjar/Makanjar dan Kridha Bramastra tampil perdana dan dapat disaksikan oleh masyarakat luas pada Garebeg Sawal Dal 1959.

Gladi Website 05 05 Small

Pelaksanaan Geladi Bersih Prajurit kali ini mendapatkan respons positif dari masyarakat yang memadati Alun-Alun Selatan Yogyakarta. Sajian aktratif yang ditampilkan oleh seluruh prajurit lengkap dengan seluruh pernak-pernik busana menjadi warna baru jelang waktu berbuka puasa. Tepat pukul 17.45 WIB, Gladhi Resik Prajurit telah purna dilaksanakan, seluruh kesatuan prajurit yang menjalankan ibadah puasa lekas berbuka bersama di Pelataran Kamandungan Kidul.

Numplak 2 02 Small

Numpak Wajik

Tidak hanya Geladi Bersih Prajurit, Keraton Yogyakarta juga melangsungkan tradisi Numplak Wajik yang dilaksanakan tiga hari sebelum pelaksanaan Garebeg Sawal, pada Selasa (17/03) di Panti Pareden Kilen, kompleks Magangan. Putri Sulung Sri Sultan HB Ka 10, GKR Mangkubumi memimpin inti dari prosesi tersebut. Sekitar pukul 15.30 WIB, rombongan Abdi Dalem Keparak yang dipimpin oleh GKR Mangkubumi berjalan menuju Panti Pareden diiringi dengan irama gejog lesung. Upacara Numplak Wajik lekas dimulai dengan panjatan doa yang dipimpin oleh Abdi Dalem Kanca Kaji.

Numplak 5 05 Small

Sore itu, kompleks Magangan dipadati oleh animo masyarakat yang ingin turut hadir pada tradisi tahunan tersebut. Irama gendhing Tundhung Setan yang dimainkan Abdi Dalem Keparak menggunakan alu dan lesung terus dimainkan selama prosesi berlangsung. Setelah sebakul besar wajik ditumplak (ditumpahkan) pada jodhang, prosesi berlanjut hingga kerangka Gunungan Wadon dengan Mustaka Gunungan yang ditancapkan pada badan wajik, diakhiri dengan melilitkan kain bangun tulak pada rangka gunungan. 

Numplak 3 03 Small

Prosesi berlangsung selama sekitar setengah jam. Sementara itu, proses penyelesaian kelengkapan gunungan dikerjakan hingga menjelang pelaksanaan upacara Garebeg. Upacara Numplak Wajik selanjutnya ditutup dengan pembagian lulur dlingo bengle kepada Abdi Dalem yang bertugas serta pengunjung yang turut hadir. Pembagian rempah-rempah dlingo bengle ini digunakan sebagai tolak bala. Saat berlangsungnya upacara Garebeg Sawal Dal 1959, Gunungan Wadon tersebut bersama empat macam Gunungan lainnya yaitu Gunungan Kakung, Gepak, Dharat, dan Pawuhan dibagikan kepada masyarakat, elemen keraton, hingga ke Kepatihan dan Pura Pakualaman.

Numplak 9 09 Small